PWNU Meluncurkan Enam Paket Program Ekonomi Rakyat
Unik Perempuan Berusia 43 Tahun Bernama Patah Hati
Johan Budi Akan Bawa Polemik Tanah KAI ke Tingkat Nasional
Penasehat Hukum Nilai Penangkapan Gus Nur Tak Prosedural
Beras Bulog Hilang, Sopir Pengantar Bantuan Beras Enggan Pulang Sebelum Dikembalikan
Pulang Pengajian, Gus Nur Ditangkap Mabes Polri
Viral Video Pemotor Wanita Joget Saat Berkendara, Polisi Beri Peringatan
Truk Tangki Bermuatan 5 Ribu Liter Air Bersih Menjadi Tumpuan Warga Pedesaan
KPU Akan Gandeng Lembaga Pendidikan Bila Kuota KPPS Kurang
Puluhan Warga Ponorogo Demo Tower Bodong
Machfud-Mujiaman Pastikan Anak - Anak Surabaya Sekolah Hingga Sarjana
Mau Berlibur, Ini Komponen Mobil yang Harus Diperiksa
Sebentar Lagi Video Call dan Telephon Bisa Pake Whatsapp Web
Paguyuban MPS Indonesia Tanggapi Usulan Kenaikan Cukai Rokok
Diserang Hama Tikus, Hektaran Tanaman Jagung Gagal Panen



Opini
Menanti Sanitasi Yang Layak, Begini Keluh Kesah Pasien Covid 19 Terisolasi di RSUA
Kamis, 02-07-2020 | 15:12 wib
Reporter : Hamidah Soetadji
Foto Mimied, Istimewa
Surabaya pojokpitu.com  Sejak tanggal 27 Juni, saya resmi menjalani masa perawatan di rumah sakit rujukan covid 19 RSUA Surabaya. Perawatan pun saya jalani hingga diputuskan rawat inap. Keluhan awal yang saya rasakan saat itu adalah batuk dan sesak.
Sejak masuk IGD,   hati saya sudah nggak enak. Was-was dan mikir gimana kalau begini dan begitu. Ternyata, apa yang saya takutkan jadi kenyataan. Ketika saturasi oksigen saya diperiksa, feeling saya bakal menjalani rawat inap dan mengarah kena virus marcona alias covid 19.

Benar saja,  setelah saturasi tidak memenuhi syarat saya pun diminta untuk pemeriksaan selanjutnya. Dan menuju ruang isolasi IGD covid. Kondisi ruangan itu cukup crowded, semakin membuat nafas saya makin sesak. Apalagi, saat bergerak, nafas saya selalu sesak. Akhirnya, benar saya harus menjalani rawat inap sambil menanti hasil tes swab. Ampunnn. Sebelumnya, emak saya sudah lebih dulu menjalani rawat inap di rumah sakit yang sama.

Dengan kondisi seperti dan status yang belum jelas, saya akhirnya dirawat di RS. Lantaran sesak dan gerak saya terbatas, akhirnya urusan ke toilet digantikan dengan pispot alat pipis untuk perempuan. Dua hari saya menggunakan itu. Sungguh itu menyiksa dan mengenaskan, Mak. Saya masih memaklumi kebebasan saya yang terengut lantaran menjadi suspect pasien covid. Saya masih bisa menerima berada dalam satu ruangan dengan lima pasien lain yang statusnya juga belum jelas. Saya masih bisa juga berdamai dengan keadaan lantaran tak ada hiburan seperti fasilitas televisi. Namun, satu-satunya hal yang tidak bisa saya terima adalah tidak ada toilet atau kamar mandi di ruang kami dirawat.

Jadi, alih-alih mikir mandi, untuk pipis dan pup saja, pasien harus pakai pispot. Kondisi ini sepertinya harus kami terima minimal sepuluh hari. Ini jauh dari kondisi dibandingkan jika saya terisolasi di hutan sekalipun. Ya, ini benar-benar sebuah isolasi. Belum diperparah dengan nafas saya yang sesak maupun tangan saya yang bengkak lantaran pemakaian infus. Tidak ada bel untuk memanggil perawat. Berteriak pun percuma. Jadi, alih-alih berharap dokter datang untuk visite dan menanyakan kabar atau kondisi kita, datang petugas kebersihan untuk mengambil pispot atau pampers saya saja, saya sudah sangat bersyukur. Jadi, pada saat ini, saya benar-benar tengah mempertanyakan, dimana peran garda depan, para tenaga medis, yang kabarnya selalu dielu-elukan? Saya tidak menuntut apa-apa. Saya paham betapa sibuknya tenaga medis seperti yang saya baca baca dimana saja. Saya hanya minta toilet agar bisa membersihkan diri. Supaya tidak stres dan malah memperburuk kondisi saya.

Yang membuat saya malas untuk makan, ada tetangga pasien seorang ibu lansia setelah buang hajat di pispot oleh petugas hanya diminta meletakkan pispot itu di atas meja ranjang pasien. Sementara hari itu, jam makan siang sudah mulai. Lalu makanlah ibu itu di depan psipot yang sudah terisi kotoran tanpa seorang petugas pun yang memindahkan pispot itu. Saya pun memanggil petugas. "Bisa minta tolong pispot dipindahkan. Saya mau makan."

Disatu sisi, pemerintah selalu mengatakan di era pandemi ini agar selalu menjaga kesehatan, cuci tangan pakai sabun dll. Apakah ini berlaku juga bagi kami pasien dengan diagnosa dugaan mengarah Covid? Karena bahasa itu yang selalu saya dengar. Ya, seharusnya secara otomatis kebersihan lingkungan selalu terjaga. Tapi TIDAK bagi saya dan teman teman yang berada di ruangan HCU lt 6 tempat kami dirawat. Betapa kagetnya ketika memasuki ruangan tidak ada sanitasi/toilet, padahal bagi saya maupun orang lain pasti sangat perlu.

Hari pertama di lt 6 saya mulai maping keadaan, bagaimana nanti buang hajat dan pipis. Kepada keluarga, saya memesan pampers. Saya pun buang hajat dan pipis di pampers, cara membuangnya dimana? Saya lempar di samping lantai sambil menunggu petugas ambil. Meski banyak perawat yang lewat kadang mereka juga nggak mau mungut kotoran di pampers mungkin karena bukan tugasnya. Ya jadinya sekitar 5-6 jam kotoran itu dibereskan. Jika nafas saya ok, saya bawa sendiri dan buang di tempat sampah.

Sekian hari kemudian saya mulai terampil buang hajat dan pipis di pampers. Begitu juga dengan membersihkan berkali-kali dengan tisue dan air ataupun tisue basah. Sungguh kondisi yang mengenaskan.  kebersihan lingkungan dan jaga kesehatan selalu diteriakkan. Tapi kami khusus di ruang lt6 tidak demikian. Benar-benar terisolasi. Ini tidak sepadan dengan biaya per pasien yang konon ditanggung Kemenkes sampai Rp 50 juta. Heloooo benarkah ituuu???

Surabaya, 1 Juli 2020
Mimied, yang masih menunggu hasil


Berita Terkait

Kesehatan
Layanan RSUA Disorot Pasiennya, Begini Kata Humas
02-07-2020 | 16:06 wib

Opini
Menanti Sanitasi Yang Layak, Begini Keluh Kesah Pasien Covid...selanjutnya
02-07-2020 | 15:12 wib

Covid-19
Pemprov Jatim siapkan rumah sakit darurat di RSKI dan Gedung...selanjutnya
04-05-2020 | 11:53 wib

Kesehatan
RSUA Tunggu Pemasangan Tekanan Negatif Sebelum Ruangan Diop...selanjutnya
16-04-2020 | 20:13 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062