Hujan Deras, Atap SMPN 1 Mantingan Ngawi Roboh
Machfud Prioritaskan Rakyat, Pemuka Agama Doakan Jadi Walikota
Peringatan Hari Santri, MWC NU Terapkan Prokes
Pelaku Pembuangan Bayi Di Pinggir Pagar Puskesmas Berhasil Ditangkap
Ratusan Warga Berdesakan Saat Mendaftar BLT UMKM
Banjir Lahar Ganggu Aktivitas Warga dan Penambang
Peringatan Hari Santri Nusantara, Upacara Sederhana
Kapolres Hingga 2 Paslon Bupati Ponorogo Takziah ke Rumah Duka
Truk Trailer Menabrak Dum Truk dan Warung, Pemilik Warung Tewas
Pimpinan Ponpes Gontor, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi Tutup Usia
Warga Oro Oro Ombo Digemparkan Penemuan Bayi Laki-Laki
Pemerintah Jatim Membantu Subsidi Asuransi Petani di Jatim Melalui PAPBD
Diduga Terjatuh Hindari Pohon Tumbang, Pemotor Tewas
Serang Polisi, Pria asal Bali Ditembak Mati
Musim Penghujan, Harga Cabai dan Bawang Merah Naik



Otomotif
Genjot Sektor Otomotif, Kemenperin Usulkan Pajak Mobil Baru Dihapus
Selasa, 15-09-2020 | 09:20 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com   Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan relaksasi pajak pembelian mobil baru sebesar nol persen, atau pemangkasan pajak kendaraan bermotor (PKB). Upaya itu diharapkan dapat menstimulus pasar sekaligus mendorong pertumbuhan sektor otomotif di tengah masa pandemi Covid-19.
"Kami sudah mengusulkan kepada Menteri Keuangan untuk relaksasi pajak mobil baru nol persen sampai bulan Desember 2020," kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Senin (14/9). 

Dia menjelaskan, upaya pemangkasan pajak pembelian mobil baru itu diyakini bisa mendongkrak daya beli masyarakat. Hal itu untuk memulihkan penjualan produk otomotif yang tengah turun selama pandemi. 

"Perhatian kami agar daya beli masyarakat bisa terbantu dengan relaksasi pajak, maka kami terapkan. Kemudian pada gilirannya bisa membantu pertumbuhan industri manufaktur di bidang otomotif tersebut," terangnya. 

Agus menambahkan, kinerja industri otomotif pada semester pertama 2020 terbilang melambat dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal itu terjadi karena dampak pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020. Namun, pada semester kedua tahun ini mulai ada perkembangan yang positif.

"Kami berharap relaksasi pajak tersebut bisa segera dijalankan agar bisa memacu kinerja industri otomotif di tanah air, dan pemulihan ekonomi nasional," paparnya lagi. 

Agus mengungkapkan, aktivitas industri otomotif memiliki multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja yang besar hingga memberdayakan pelaku usaha di sektor lainnya. "Industri otomotif itu mempunyai turunan begitu banyak. Ada tear 1, tear 2 yang begitu banyak," imbuhnya. 

Sebelumnya, relaksasi pajak pembelian mobil baru sempat digaungkan Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam. 

Menurutnya, industri otomotif saat ini butuh stimulus dari pemerintah agar terjadi peningkatan daya beli. "Kami harapkan ada tax deduction untuk menstimulus daya beli, tetapi tax deduction ini yang tidak mengurangi pendapatan pemerintah. Harapan kami ada di pajak daerah, kalau pajak bisa diturunkan jumlah yang dijual bisa naik," paparnya. (ddy/jpnn/end)




Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062