Mencuri Notebook Buat Bayar Ciclan Mobil
4 Macam Bahan Kampanye yang Difasilitasi KPU, Resmi Diserahkan ke Paslon
Pelaku Pembobol Rumah Ditembak Polisi
Hari Santri Melukis Resolusi Jihad di Atas Kanvas 10 Meter
Terapkan Aplikasi Cashless Meeber Walikota Mojokerto Resmikan Pasar Benteng Pancasila
Banteng Lawas Turun Gunung Dukung Eri Cahyadi - Armuji
Hilang Kendali Truk Tronton Tabrak Pohon, Sopir Tewas Terjepit
Diduga Telah Diculik Beberapa Waktu Lalu, Mayat Balita Ditemukan di Sungai Bululawang
Warga Hentikan Truk Proyek Perumahan Mutiara City
Peringati Hari Santri, Satlantas Polres Lamongan Gratiskan SIM Bagi Para Santri
Seorang Pria Bayar Pajak Kendaraan Dengan Uang Koin
Latihan Bersama Arema FC dan Madura United Dihentikan di Menit 75
Hujan Deras, Atap SMPN 1 Mantingan Ngawi Roboh
Machfud Prioritaskan Rakyat, Pemuka Agama Doakan Jadi Walikota
Peringatan Hari Santri, MWC NU Terapkan Prokes



Sosok
Kisah 33 Tahun Pemetik Buah Siwalan, Penghasil Minuman Legen
Minggu, 20-09-2020 | 21:15 wib
Reporter : Fakhrurrozi
Lamongan pojokpitu.com   Minuman legen atau tuak yang dihasilkan dari buah lontar atau siwalan tumbuh subur di pesisir pantau utara jawa, seperti Tuban dan Lamongan. Minuman ini banyak disuka karena rasanya yang khas dan bisa menambah semangat.
Namun tak banyak yang tahu bila untuk mendapatkan segelas minuman legen ini, pemetik buah harus memanjat pohon siwalan setinggi 15 meter, tanpa bantuan alat pengaman.

Hari masih pagi jarum jam masih menunjukkan angka 6, namun pria ini bernama Turkhamun ini sudah bersiap di perkebunan pohon siwalan di Desa Paciran, Kecamatan Paciran Lamongan. Hanya berbekal pisau dan sebuah bumbung bambu yang disebut centak, Turkhamun sudah menuju pohon siwalan yang hendak dipanjat.

Meski tanpa bantuan alat pengaman, pria berusia 55 tahun ini begitu mudah memanjat pohon siwalan setinggi 15 meter. Ternyata bagi Turkhamun, kebiasaan ini sudah dia tekuni selama 33 tahun. Meski tanpa pengaman, Turkhamun tak pernah sekalipun jatuh dari pohon.

Begitu berada di atas pohon, Turkhamun mengambil sari atau tetesan buah siwalan yang disebut legen. Setiap hari, Turkhamun hanya bisa mendapatkan 24 centak yang dijual 10 ribu rupiah per botolnya. Dengan hasil ini, maka turkhamun bisa mendapatkan 240 ribu rupiah.

Turkhamun merasa bersyukur, penghasilan 240 riburupuah ini sudah cukup untuk menghidupi 4 anaknya. Usai diambil dari pohon, legen ini lalu dijual di sepanjang tepi jalan Surabaya-Lamongan-Tuban. Untuk legen yang tak laku difermentasi menjadi tuak yang bisa memabukkan.

Tak hanya mengambil sari buah untuk minuman legen dan tuak, Turkhamun juga memetik buah siwalan. Kali ini, Turkhamun membawa tali yang digunakan untuk menurunkan buah siwalan dari atas pohon.

10 biji buah siwalan ini dijual dengan harga 10 ribu rupiah, meski bahagia dengan pekerjaannya, namun Turkhamun merasa sedih lantaran tak ada yang akan meneruskan keahliannya sebagai pemetik sari buah siwalan. (yos)



Berita Terkait

Sosok
Kisah 33 Tahun Pemetik Buah Siwalan, Penghasil Minuman Legen...selanjutnya
20-09-2020 | 21:15 wib

Icip - Icip
Berburu Legen Asli Untuk Buka Puasa
27-04-2020 | 23:10 wib

Life Style
Kecantikan Legenda Indonesia Dalam Kebaya dan Make Up
01-10-2019 | 22:17 wib

Sepak Bola
Legenda Persebaya Meninggal Karena Sakit Jantung
18-05-2019 | 18:23 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062