4 Macam Bahan Kampanye yang Difasilitasi KPU, Resmi Diserahkan ke Paslon
Pelaku Pembobol Rumah Ditembak Polisi
Hari Santri Melukis Resolusi Jihad di Atas Kanvas 10 Meter
Terapkan Aplikasi Cashless Meeber Walikota Mojokerto Resmikan Pasar Benteng Pancasila
Banteng Lawas Turun Gunung Dukung Eri Cahyadi - Armuji
Hilang Kendali Truk Tronton Tabrak Pohon, Sopir Tewas Terjepit
Diduga Telah Diculik Beberapa Waktu Lalu, Mayat Balita Ditemukan di Sungai Bululawang
Warga Hentikan Truk Proyek Perumahan Mutiara City
Peringati Hari Santri, Satlantas Polres Lamongan Gratiskan SIM Bagi Para Santri
Seorang Pria Bayar Pajak Kendaraan Dengan Uang Koin
Latihan Bersama Arema FC dan Madura United Dihentikan di Menit 75
Hujan Deras, Atap SMPN 1 Mantingan Ngawi Roboh
Machfud Prioritaskan Rakyat, Pemuka Agama Doakan Jadi Walikota
Peringatan Hari Santri, MWC NU Terapkan Prokes
Pelaku Pembuangan Bayi Di Pinggir Pagar Puskesmas Berhasil Ditangkap



Kesehatan
Obesitas Perburuk Infeksi Covid-19, Ikuti 3 Cara Jaga Berat Badan
Sabtu, 03-10-2020 | 20:10 wib
Reporter :
pojokpitu.com  Masyarakat selama ini mengetahui bahwa komorbid atau penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, hingga paru-paru menahun bisa memperberat infeksi Covid-19. Tapi ternyata, percayakah bahwa obesitas atau kegemukan juga menjadi komorbid atau memperberat pasien Covid-19?
Maka selain tetap menjaga protokol kesehatan dengan 3M yakni Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak, masyarakat juga diminta untuk selalu menjaga berat badan ideal.

Associate Professor Departemen Ilmu Kedokteran Dasar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dr. Gaga Irawan Nugraha dalam talkshow di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini menjelaskan, ketika awal-awal meningkatnya kasus Covid-19, orang tidak mengetahui bahwa obesitas menjadi salah satu faktor risikonya. Dan jika sudah terinfeksi, pasien bertubuh gemuk sering mengalami pemberatan kondisi.

"Setelah Covid-19 masuk ke Amerika, di bulan April dilaporkan bahwa ternyata begitu banyak kematian akibat Covid-19 di AS, terutama di kota New York. Hal itu terjadi karena ternyata banyak orang di New York itu sampai lebih dari 42 persen mengalami obesitas," paparnya.

Menurut dr. Gaga, faktor risiko kedua setelah hipertensi, ternyata adalah obesitas. Kenapa? Karena obesitas memiliki lemak yang lebih besar permukaannya, sehingga reseptor untuk menempelnya virus itu menjadi lebih banyak, lebih luas. Berdasarkan itu, orang obesitas lebih berisiko dan mengalami pemberatan setelah terkena virus korona.

Kedua, kata dr. Gaga, orang obesitas lemaknya ada di mana-mana. Lemak di jantungnya lebih banyak lemak kiri-kanan-depan-belakangnya, begitu juga dengan di perutnya.

"Sehingga, ketika terinfeksi Covid-19, dan kemudian dia sulit bernapas, kesulitan bernapasnya bertambah, restriksi parunya menjadi semakin kecil, karena kiri-kanan-depan-belakang, termasuk jantungnya, tertekan oleh lemak," tegasnya.

Ketiga, orang yang obesitas akan mengalami kelainan imunitas yang menyebabkan dia lebih mudah parah. Lalu bagaimana bagi mereka yang sudah kegemukan?

"Orang obesitas itu sebagian besar karena gaya hidup, karena gaya hidup yang salah. Itu yang harus diperbaiki," katanya.

1. Makan Secukupnya

Pola makan adalah paling penting. Kalau orang obesitas, berarti dia mengonsumsi makanan yang lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuhnya. Jadi orang obesitas mengonsumsi makanan yang sebetulnya tidak diperlukan oleh tubuhnya, atau bisa dibilang mengonsumsi "sampah".

"Itu yang harus dihindari. Yang lebihnya itu yang harus dihindari oleh orang obesitas," tegasnya.

2. Batasi Karbo

Kemudian berdasarkan riset, kata dia, ternyata yang paling cepat meningkatkan berat badan, terutama untuk orang Indonesia nomor satu adalah karbohidrat sederhana. Yakni nasi, mi, tepung lainnya. Makanan yang mengandung karbohidrat sederhana, yaitu makanan yang terbuat dari tepung, baik tepung terigu, kanji, ataupun tepung beras.

"Dan kita tahu semua, bahwa semua camilan sekarang ini terbuat dari tepung terigu. Gula dan tepung terigu itulah yang paling banyak meningkatkan gula darah, memudahkan obesitas. Jadi yang paling harus dihindari adalah gula dan tepung untuk orang yang obesitas," tegasnya.

Diet sehat bisa memilih karbo pengganti seperti umbi-umbuan atau beras merah. Terutama untuk mereka yang memang sudah obesitas atau gula darah tinggi.

3. Batasi Makanan dan Minuman Manis

Agar berat badan stabil dan gula darah tetap stabil, masyarakat harus membatasi makanan dan minuman manis. Baik gula dalam bentuk makanan, makanan-makanan yang manis, permen, cokelat, pastry yang mengandung gula.

"Hindari gula, kecuali di bumbu saja. Kalau masak ada gulanya, boleh. Tetapi makanan yang manis, hindari," tegasnya.

Lalu hindari gula di minuman. Softdrink, teh manis, kopi manis, yang mengandung gula, hindari.



Berita Terkait

Kesehatan
Masih Menjadi Ancaman, 1 Dari 4 Orang Indonesia Obesitas
09-12-2019 | 22:12 wib

Metropolis
Berita Duka, Yunita Gadis Obesitas Akhirnya Meninggal Dunia
03-07-2019 | 13:02 wib

Kesehatan
Gawat, Gadis Obesitas Kembali Dirawat di RSUD Sidoarjo
20-06-2019 | 02:22 wib

Kesehatan
Sukes Berat Badan Turun 30 Kg, Yunita Kini Lebih Aktif
12-12-2017 | 13:18 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062