4 Macam Bahan Kampanye yang Difasilitasi KPU, Resmi Diserahkan ke Paslon
Pelaku Pembobol Rumah Ditembak Polisi
Hari Santri Melukis Resolusi Jihad di Atas Kanvas 10 Meter
Terapkan Aplikasi Cashless Meeber Walikota Mojokerto Resmikan Pasar Benteng Pancasila
Banteng Lawas Turun Gunung Dukung Eri Cahyadi - Armuji
Hilang Kendali Truk Tronton Tabrak Pohon, Sopir Tewas Terjepit
Diduga Telah Diculik Beberapa Waktu Lalu, Mayat Balita Ditemukan di Sungai Bululawang
Warga Hentikan Truk Proyek Perumahan Mutiara City
Peringati Hari Santri, Satlantas Polres Lamongan Gratiskan SIM Bagi Para Santri
Seorang Pria Bayar Pajak Kendaraan Dengan Uang Koin
Latihan Bersama Arema FC dan Madura United Dihentikan di Menit 75
Hujan Deras, Atap SMPN 1 Mantingan Ngawi Roboh
Machfud Prioritaskan Rakyat, Pemuka Agama Doakan Jadi Walikota
Peringatan Hari Santri, MWC NU Terapkan Prokes
Pelaku Pembuangan Bayi Di Pinggir Pagar Puskesmas Berhasil Ditangkap



Mataraman
Metode Light Trap Bawang Merah
Minggu, 18-10-2020 | 06:15 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Ribuan kilau cahaya lampu ini bukanlah wisata lampu, melainkan perangkap untuk hama tanaman bawang merah, perangkap itu dieknal dengan sebutan light trap atau perangkap hama dari lampu ultraviolet. Foto: Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com  Berbagai macam cara dilakukan oleh petani guna menekan biaya produksi yang kian mahal, salah satunya petani bawang merah di Nganjuk menerapkan metode light trap atau lampu perangkap hama.
Tak tanggung-tanggung, petani memasang ribuan lampu di lahan bawang merah seluas 100 hektar. Metode pengendalian hama ini tak hanya ramah lingkungan saja, melainkan mampu mengurangi biaya pemakaian insektisida hingga 80 persen.

Perangkap hama ramah lingkungan ini digunakan oleh puluhan petani di 2 desa, yaitu di Desa Sukorejo dan Desa Mojorembun Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, dengan jumlah total sebanyak 100 hektar lahan bawang merah.

Di Desa Sukorejo, dalam satu gabungan kelompok tani atau gapoktan ada sekitar 50 hekatar lahan sawah tanaman bawang merah dengan sebanyak 1482 titik lampu uv penangkap hama.

Menurut Akad, salahsatu petani bawnag merah mengaku, metodekerja dari light trap ini aliran listrik yang sudah terpasang di gabungkan dengan lampu uv yang diletakkan di atas tanaman bawang merah, dan dibawah lampu terdapat satu ember atau timba yang berisikan air yang sudah dicampur dengan oli. "Lampu dinyalakan pada malam hari sejak pukul 17.00 wib hingga 04.00 wib saja," terangnya.

Saat lampu nyala inilah hewan hewan hama, dan serangga mendekati lampu dan tererangkap di air hingga tak bergerak berujung mati.

Metrode ini terbukti mampu mengurnagi biaya produksi hingga 80 persen pada satu kali masa tanam dan hingga panen. Biasanya petani harus melakukan semprot insetisida sebanayk 12 kali dalam satu bulan, dan tiap kali semprot menguras uang sebanyak Rp 2 juta.

Namun dengan metode ini hanya  dua kali saja melakukan semprot insektisida, sehingga mampu menekan biya produksi sebanyak 10 kali semprot atau sebanyak 20 juta rupiah per bulan untuk 1 hektar lahan.

Metode ini juga di rasa sangat aman, sebab aliran listrik langsung dari PLN bukan dari diesel dan dipasang oleh instalatir yang porofesional dengan menggunakan tiang dan kabel pln yang terletak di atas.

"Sehingga tidak ada kabel yang ada di bawah atau ditanah serta tiap tiap titik ada saklar dan induk saklar," tuturnya.

Sementara menurut Agus Sulis, Kabid Hortikultura Disperta Nganjuk, upaya metode perangkap hama dengan lampu uv ini dilakukan guna meningkatkan hasil tanaman bawang merah dengan metode ramah lingkungan.

Sementara pemasangan listrik pada tahun 2020 dengan anggran pengadaan listrik berasal dari pemerintah sebesar Rp 240 juta untuk dua gapoktan.

Kedepan Dinas Petanian akan terus mengembangkan metode tersebut kesejumlah lahan tanaman bawang merah di wilayah lainnya. (yos)


Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062