Penipuan Bermodus Investasi Forex, Dibongkar Polda Jatim
Penempatan Tapal Batas Kabupaten Madiun Mengacu Pada Permendagri No. 141/2017



Tempo Doeloe
Serunya Masyarakat Berebut Uang Rp 100 ribu di Acara Piton-Piton
Minggu, 18-10-2020 | 10:10 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Tradisi piton piton, atau tradisi turun tanah bagi bagi yang sudah berumur tujuh bulan menginjak ke delapan bulan ini, merupakan tradisi jawa yang dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang. Foto: Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com  Warga di Nganjuk menggelar upacara adat jawa piton piton atau bayi turun tanah, tardisi tujuh bulanan usia kelahiran bagi bayi ini dimaksudkan agar perjalanan kehidupan bayi dalam menggapai masa depan tidak mengalami hambatan, selamat didunia dan diakheratnya. Tradisi ini berakhir dengan ratusan warga berebut uang pecahan Rp 500 rupiah hingga uang kertas Rp 100 ribu.
Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri Andri dan Hermin, warga Perumahan Purimangundikaran Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk. Pasutri ini menggelar tradisi turun tanah untuk putra keduanya, bernama Akio Nadhir Dimitrio yang baru berumur 7 bulan.

Tardisi dimulai sang bayi didandani dengan mahkota dari daun kelapa dengan hiasan bunga mawar. Tak lupa sang bayi juga di bedaki agar terlihat menawan. Bayi dituntun berjalan menuju tangga yang terbuat dari batang tebu sebanyak 7 anak tangga.

Usai itu kaki anak diinjakkan ke tanah dan disiram dengan bunga kembang setaman oleh kedua orangtuanya, sisa kembang diletakkan ke tempat ari-ari sang anak.

Kemudian sang anak dimasukkan ke dalam keranjang yang sudah di persiapakan. didalam keranajang sudah dipersipakan barang barang berupa buku , kitab suci dan pensil, sisir dan uang.

Apapun yang dipilih sang bayi, diyakini akan membawa kebaikan pada sang bayi hingga tercapai cita citanya. Sementara akio memilih pensil dan uang Rp 100 ribu.

Menurut Hermin, orangtua bayi, disamping untuk melestarikan budaya jawa, dalam piton piton bayi dimaksudkan agar bayi bisa setapak demi setapak, meriaih cita citanya yang tinggi dan saat di masukkan pada keranjang, sebagai simbul anak diberikan perlindungan hingga dijauhkan dari malapetaka dan selalu dilindungi oleh Allah Swt.

Tradisi ini, berkahir dengan pembagian rizki, dengan peerebutan uang logam Rp 500 rupiah dan yang kertas Rp 50 hingga Rp 100 ribu serta puluhan dor prize dengan total sekitar Rp 4 juta. Puluhan warga dari orang dewasa dan anak-anak yang berkumpul langsung saling berebut, untuk mendapakan uang.

Meski berebut namun tak membuat jera warga, seperti yang diungkap oleh Suci warga Nganjuk kota ini, ia ikut berebut dan mendaptkan uang sebanyak Rp 30 ribu dan dor prize berupa alat alat masakan.

Meskipun tradisi turun tanah bagi bayi ini mempunyai arti yang penting, sayangnya sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat jawa itu sendiri, salahsatunya akibat maraknya budaya modern yang semakin berkembang. (yos)





Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062