Berburu Rupiah Dengan Budidaya Lebah Madu Klanceng
Didukung Para Kyai, Mas Dhito Semakin Mantab Hadapi Pilkada
Petani Resah Pupuk Bersubsidi Kian Langka Akibat Terbatasnya Stok
Sedimentasi Waduk Selorejo, Perum Jasa Tirta Lakukan Penyedotan Lumpur
Soal Ringroad Timur, Ketua DPRD Minta Maidi dan Kaji Mbing Bertemu
Pemkab Ingin Pertahankan Titik Koordinat PABU 024 Sesuai Permendagri



Opini
Jalur Rempah, Kebanggaan Bangsa Sekarang dan Mendatangkan
Rabu, 04-11-2020 | 16:34 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com  Keragaman rempah rempah Nusantara yang tersohor hingga manca negara.
Pada abad 19 seorang geografer Jerman, Ferdinand von Richthofen, menggunakan istilah "Jalur Sutera" karena adanya jalur perdagangan komoditi sutera dari China (Timur) ke dunia Eropa (Barat) pada abad abad sebelumnya. Istilah inilah, Jalur Sutera (Silk Road), yang selanjutnya dikenal dunia, termasuk dikenal di Indonesia hingga sekarang.

Sementara di Indonesia, diketahui bahwa komoditi rempah nusantara juga pada akhirnya memunculkan adanya jalur perdagangan rempah, yang rutenya hingga ke bumi Eropa. Jalur perdagangan rempah ini tidak kalah pentingan dengan jalur perdagangan sutera. Ini tidak lain karena hadirnya pendatang Eropa, bangsa Portugis dan Spanyol.

Bangsa Portugis, yang dipimpin oleh Fransisco Serrau masuk Maluku untuk mencari rempah-rempah pada awal abad 16. Sementara sekutunya, bangsa Spanyol, datang ke Maluku pada tahun tahun berikutnya di abad yang sama. Pada abad berikutnya, abad 17, datang pula bangsa Belanda melalui kongsi dagang VOC, yang juga mulai mengais rempah-rempah Nusantara dari Maluku.

Menurut sejarawan UNESA, Drs. Sumarno, M.Hum dalam sebuah diskusi kelompok terpumpun yang digelar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Taman Budaya, Jalan Genteng Kali Surabaya (2/11), rempah rempah nusantara bahkan sudah ada jauh sebelum kehadiran bangsa Eropa ke Maluku.

Di era kerajaan Majapahit rempah rempah sudah menjadi komoditas yang menghubungkan Majapahit dengan kerajaan-kerajaan seberang, termasuk China. Bahkan diplomasi antar negara kerajaan pun terjalin karena komoditas rempah rempah nusantara. Di era kolonial dengan masuknya bangsa Eropa, terlebih bangsa Belanda, rempah rempah semakin melimpah. Namun, menurut Sumarno rempah yang layak memberi berkah, malah membawa bencana. Nusantara akhirnya menjadi bumi yang terjajah.

Sejarah telah mencatat bahwa rempah-rempah bagai emas hijau yang sangat ekonomis. Di era sekarang pun, rempah-rempah masih sangat berpotensi menjadi barang yang super ekonomis. Namun, keberadaannya belumlah diolah semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta untuk menguatkan identitas bangsa.

Sebagai identitas bangsa, rempah-rempah yang memiliki sejarah panjang di nusantara, ternyata belum diakui dunia sebagaimana dunia telah mengakui China dengan Jalur Suteranya. Maka, Indonesia sesungguhnya layak memiliki "Jalur Rempah". Karena itulah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merencanakan dan berupaya agar dunia, melalui UNESCO, dapat mengakui bahwa Jalur Rempah adalah milik Indonesia.

Pengakuan ini ditargetkan bisa terealisasi pada tahun 2024 dan karena itu mulai tahun 2020 hingga tahun 2024 akan ada serangkaian aksi baik di bidang kebudayaan dan kesejarahan yang bisa diperkenalkan dan dilakukan oleh masyarakat Indonesia baik itu oleh akademisi, pelajar, masyarakat umum dan komunitas sejarah serta budaya.

Diskusi kelompok yang digelar BPCB Jawa Timur bersama Forum Begandring Soerabaia di Taman Budaya Surabaya.

Dalam rangka itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur bersama Forum Begandring Soerabaia menggelar diskusi kelompok terpumpun yang mengangkat "Jalur Rempah, Kebanggaan Bangsa Sekarang dan Mendatang". Diskusi kelompok ini menghadirkan nara sumber yang terdiri dari sejarawan UNESA Sumarno; AH. Thony - Wakil Ketua DPRD Surabaya; Dayu Kade Asritami - Disparta Surabaya; Sri Untari - DPRD Jatim; Aji Prabowo - Disbudpar Jatim dan Drs. Zakaria Kasimin - Kepala BPCB Jatim.

Menurut Kepala BPCB Jatim diskusi ini untuk menjaring beragam pendapat dan pandangan dari para nara sumber dan hadirin terkait Jalur Sutera, yang nantinya akan menjadi beragam aksi dalam rangka mempopulerkan kekayaan rempah rempah nusantara sehingga pada saatnya UNESCO mengakui Jalur Sutera, masyarakat Indonesia tidak hanya lebih mengenal rempah rempah, tetapi juga bisa memanfatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan.

Sri Untari, Komisi E DPRD Jawa Timur sangat mendorong upaya ini dan ia berharap rempah rempah nantinya bisa menambah kesejahteraan rakyat. Sebagaimana telah ditetapkan oleh pusat bahwa 3 titik jalur Rempah di Jawa Timur seperti Surabaya, Mojokerto dan Kediri dapat ditambah sesuai dengan fakta fakta sejarah akan jalur rempah di Jawa Timur. Misalnya ada Tuban, Gresik dan Pasuruan. Dengan semakin banyak daerah tercantum dalam peta jalur rempah di Jawa Timur, maka upaya penggalian potensi dan pengembangannya bisa lebih luas.

Surabaya sebagai kota, yang telah ditetapkan sebagai jalur rempah, juga sudah mempersiapkan diri menggali dan menyuguhkan potensi jalur rempah ini sebagai aset wisata, budaya dan ekonomi. Ini sebagaimana disampaikan oleh Dayu Kade Asritami mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya.

Sementara itu, AH Thony - Wakil Ketua DPRD Surabaya, mengingatkan semua hadirin dan nara sumber bahwa selain mempersiapkan diri untuk pengkuan UNESCO, hendaknya kota Surabaya juga mempersiapkan upaya dan aksi setelah adanya pengakuan nantinya. Warga Surabaya dan bangsa Indonesia diharap bisa akrab dan ramah dengan rempah rempah dalam kehidupan sehari hari. Ia tidak ingin dengan pengakuan dunia yang didapat nantinya justru bangsa Indonesia sendiri tidak akrab dengan rempah rempah. Pengalaman nyata telah memberi contoh, misalnya warisan budaya keris dan batik yang telah mendapat pengakuan dari UNESCO.

"Apakah setelah adanya pengakuan itu, kita memakai batik dan keris sebagai pakaian dan kelengkapan sehari hari?" Tanya AH Thony. Jika keris dipakai sebagai bahan legitimasi pengangkatan jabatan di pemerintahan kota, maka keris akan punya tempat yang tidak hanya dipakai pada saat acara acara tradisional, tapi juga digunakan dalam acara acara formal. Ia menambahkan. Pun demikian dengan rempah rempah nantinya.

Dari semua masukan, pandangan dan pendapat pada diskusi kelompok terpumpun ini, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur akan menindak lanjuti dengan memfokuskan pada isu isu yang muncul dari diskusi. Demikian kata Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Jatim.

Acara diskusi kelompok terpumpun ini dihadiri oleh sekitar 50 undangan dan bersifat terbatas karena masih dalam pandemi covid 19. Para undangan ini terdiri dari sejarawan, akedemisi, seniman, budayawan dan komunitas sejarah dan budaya. (Nanang)







Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062