Terjaring Operasi Zebra , Belasan Pelanggar Dihukum Sholat Ghoib Untuk Korban Kecelakaan
Warga Ngawi Sukses Kembangkan Kerupuk Kopi
Ormas Kepemudaan Bagikan Nasi Bungkus dan Masker di Hari Sumpah Pemuda
Viral, Pengajian Yang Memojokan Dua Pasangan Calon Bupati Sidoarjo
Dinkes Ponorogo Lakukan Tracking ke Seluruh Pegawai PLN
Merasa Dicemarkan Nama Baik, Warga Ponorogo Lapor ke Polisi
Gelapkan Aset Desa, Mantan Kades Ditahan
Dump Truk Terperosok Saat Uji Coba Jembatan Tlaji
Pejuang Kemanusiaan Peringati Maulid Nabi Dengan Protokol Kesehatan
Viral Balap Truk di Wisata Pantai Tuban, Bahayakan Wisatawan
8 Pengacara Dampingi Sugi Nur Untuk Penangguhan Penahanan
Diguyur Hujan Deras Semalam, Sejumlah Rumah di Pacitan Tertimpa Longsor
Dewan Soroti Rusun Pandugo, Pemberian Kunci Dipolitisir
Warga Menolak Janazah Cucu Pengikut Aliran Syiah Dikubur di Desanya
Libur Panjang, KAI Prediksi Terjadi Kenaikan Penumpang 15 Persen



Rehat
Malam ini DKJT Gelar Festifal Musik Bambu Jawa Timur
Senin, 23-10-2017 | 15:26 wib
Reporter : Pulung Aji
Surabaya pojokpitu.com  Kekayaan alam Indonesia tak habis digali dan dimanfaatkan untuk memacu kreativitas. Bambu, misalnya, di antara tanaman khas bisa menjadi simbol betapa kelestarian lingkungan itu beriringan dengan kreativitas masyarakat secara luas.
Atas dasar itulah, Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar Festival Musik Bambu Jawa Timur di Bumi Surabaya City Resort, Senin tanggal 23 Oktober 2017 pukul 18.00 Wib. Kegiatan akan dibuka Gubernur Jatim Soekarwo. Hal itu membuktikan betapa Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan apresiasinya kepada masyarakat yang mampu mempertahankan identitas budayanya di tengah gempuran budaya dari asing.

Menurut Taufik Hidayat Monyong, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, Festival Musik Bambu Jawa Timur, merupakan kesempatan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sebagian sumber kekayaan alam kita. "Dengan festival ini, kami mengukur sejauhmana kreativitas di masyarakat, khususnya masyarakat dengan latar belakang agraris itu bertahan dengan keseniannya yang khas," kata Taufik Hidayat Monyong.

Sejumlah kelompok musik bambu dari berbagai daerah di Jawa Timur ditampilkan. Di antara penyaji  performens Unen-Unen, grup musik dari Desa Rengel, Tuban, dan Jemblung Kediri. Selain itu, ada juga grup kesenian Pabeng Pariopo, Situbondo, Angklung Paglak dari Banyuwangi dan Musik Bambu Bumbung dari Probolinggo.

Penampilan menarik dari Kesenian Jemblung. Ini merupakan kesenian daerah yang berbentuk teater tradisional, biasanya terdiri dari 7 (tujuh) orang termasuk di dalamnya panjak sebagai pemukul alat musik (pemberi senggakan), dan seorang dalang sebagai orang yang mengantar bercerita. Selain itu, dilengkapi alat-alat musik tradisional yang terbuat dari kulit dan kayu yang dipukul secara berirama. Kesenian Jemblung hampir mirip dengan pertunjukan wayang.

Kelompok Kesenian Unen-Unen, Tuban. Kelompok kesenian unen-unen yang berasal dari Tuban merupakan sekelompok pemusik yang menggunakan alat musik berbahan bambu dengan cara ditiup, petik, dan pukul.

Selain itu, ada Musik Angklung Caruk dari Banyuwangi. Kata Caruk berasal dari bahasa Osing, yang berarti bertemu. Pertemuan dua kelompok pemain angklung dan mereka saling mengadu ketangkasan memainkan angklung, disebut dengan angklung caruk.

Dua grup tersebut memainkan angklungnya bersama dan saling bersaing ketangkasan. Untuk penonton biasanya terbagi dalam 3 kelompok : dua di antaranya merupakan rival yang masing-masing mendukung angklung kesayagannya. Sedang yang satu berpihak pada dua pemain angklung dan mereka ingin mengetahui secara keseluruhan permainan. Permainan angklung ini menjadi sangat meriah, karena dukungan masing-masing penonton. (pul)


Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062