Warga Ngawi Sukses Kembangkan Kerupuk Kopi
Ormas Kepemudaan Bagikan Nasi Bungkus dan Masker di Hari Sumpah Pemuda
Viral, Pengajian Yang Memojokan Dua Pasangan Calon Bupati Sidoarjo
Dinkes Ponorogo Lakukan Tracking ke Seluruh Pegawai PLN
Merasa Dicemarkan Nama Baik, Warga Ponorogo Lapor ke Polisi
Gelapkan Aset Desa, Mantan Kades Ditahan
Dump Truk Terperosok Saat Uji Coba Jembatan Tlaji
Pejuang Kemanusiaan Peringati Maulid Nabi Dengan Protokol Kesehatan
Viral Balap Truk di Wisata Pantai Tuban, Bahayakan Wisatawan
8 Pengacara Dampingi Sugi Nur Untuk Penangguhan Penahanan
Diguyur Hujan Deras Semalam, Sejumlah Rumah di Pacitan Tertimpa Longsor
Dewan Soroti Rusun Pandugo, Pemberian Kunci Dipolitisir
Warga Menolak Janazah Cucu Pengikut Aliran Syiah Dikubur di Desanya
Libur Panjang, KAI Prediksi Terjadi Kenaikan Penumpang 15 Persen
Diduga Menyalip Kiri, PNS Tewas Terlindas Truk



Ekonomi Dan Bisnis
Bisnis Koran Tertekan, Tapi Bukan Berarti Akan Mati
Kamis, 02-11-2017 | 09:10 wib
Reporter :
Dahlan Iskan
Surabaya pojokpitu.com  Serikat Perusahaan Pers (SPS) menggelar diskusi membahas nasib bisnis pers di masa depan, di Harris Hotel & Convention, Surabaya, Rabu malam. SPS optimistis koran tetap bisa bertahan meski digempur dengan serbuan media online.
Tiga pelaku dan pengamat media berbicara di forum tersebut. Yakni, Presdir PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit Bisnis Indonesia) Lulu Terianto, Director Product Leader Consumer & Media View Nielsen Australia Brian Christopher, dan Ketua Umum SPS yang juga founder Jawa Pos Group Dahlan Iskan.

Brian mendapat kesempatan pertama berbicara. Dia mengulas kondisi media di Australia. Dia mengakui media cetak memang mengalami penurunan.

Posisinya di bawah media online dan televisi. "Itu realita dan sekarang saya bertanya mengapa harus koran," kata Christopher di depan anggota SPS, praktisi, dan pengamat media.

Materi yang dipaparkan Brian tidak menyinggung jalan keluar atas kondisi bisnis media cetak yang kian turun. Dia justru ingin mendengar alasan-alasan mengapa bisnis koran itu masih harus ada.

Pertanyaan tersebut djawab Lulu Terianto. Dia mengungkapkan, perilaku konsumen media di Australia berbeda dengan Indonesia. Peran digital di Indonesia tidak semaju di Australia. "Di Indonesia, koran dan radio masih dibutuhkan," katanya.

Menurut dia, kondisi bisnis koran yang lesu tak otomatis akan mematikan koran. Semua bergantung pada pelaku bisnis tersebut. "Sebab, kualitas adalah kunci untuk bertahan," ucap dia.

Lulu mengatakan, media akan tetap menarik apabila menyajikan komunikasi dua arah. Media sosial selama ini melakukan strategi itu.
Dia lantas menyebut Facebook, yang memungkinkan pengguna dan orang lain bisa berkomunikasi dalam sebuah forum. Artinya, ada komunikasi dua arah sehingga menarik perhatian.

Nah, hampir semua media online belum melakukan itu. Lulu yakin, selama komunikasi yang diterapkan media online masih satu arah, umurnya tidak panjang. Demikian halnya dengan koran. "Harus mewujudkan komunikasi dua arah," ungkap Lulu.

Dahlan sebagai pembicara terakhir setuju dengan informasi yang disampaikan Brian dan pernyataan Lulu. Koran memang sedang dalam kondisi tertekan. "Tapi tidak bisa diartikan akan mati," katanya.

Dia mengatakan 25 tahun lalu pernah mengucap bahwa nanti hanya ada satu koran di daerah atau di bidangnya. Misalnya, Bisnis Indonesia yang kuat di bidang ekonomi. Koran ini, kata Dahlan, memiliki keunggulan dalam bidang akurasi angka. "Salah angka, pengusaha tidak akan percaya. Nah, biar Bisnis Indonesia menguasai bidang itu," jelas dia.

Dahlan juga menyebut Kompas. Sejak dahulu dia menyarankan Kompas menjadi koran Jakarta. Sebab, media tersebut sangat kuat dengan Jakarta. "Tapi, pernyataan itu sempat disalahartikan," kata Dahlan yang disambut tawa audiens.

Lalu, Jawa Pos dengan pangsa pasar Surabaya dan sekitarnya. Bidang itulah yang digagas sehingga koran tetap bertahan. Nanti jumlah koran itu tidak banyak. "Kecil, tapi mentes," ucap dia.

Forum diskusi tersebut diikuti puluhan pengusaha pers dari berbagai daerah di Indonesia. Turut hadir praktisi dan akademisi kampus se-Indonesia.

Pada kesempatan itu, SPS menyerahkan sertifikat verifikasi kepada beberapa media. Kemudian, ada penyerahan penghargaan kepada penerima Indonesia Media Research Awards & Summit (IMRAS) 2017. (riq/c10/agm/jpnn/pul)


Berita Terkait

Ekonomi Dan Bisnis
Bisnis Koran Tertekan, Tapi Bukan Berarti Akan Mati
02-11-2017 | 09:10 wib

Rehat
Kreatifitas Koran Bekas Beromzet Jutaan Rupiah
21-02-2017 | 23:17 wib

Peristiwa
Wow, Siapa Sangka Potongan Pohon Ini Dibuat Dari Koran Bekas...selanjutnya
23-04-2016 | 13:41 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062