Opini 

Longsor dan Banjir Pacitan, Musibah Terparah Sepanjang Sejarah
Senin, 04-12-2017 | 11:03 wib
Oleh : Doni Diadon
Pacitan - Bencana alam banjir dan longsor di Kabupaten Pacitan, meluluhlantakkan bangunan rumah, infrastruktur jalan, jembatan dan fasilitas pendidikan. Puluhan ribu penduduk di kota berjuluk 1001 goa sempat mengungsi dan beberapa diantaranya masih terisolir.


Banjir bandang sejak selasa pekan lalu, merusak 14 bangunan rumah milik warga di Lingkungan Teleng Ria, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan.  Keindahan obyek wisata teleng ria seketika berubah menjadi kawasan banjir. Sarana prasarana yang tersedia di obyek wisata ikut hancur. 

Banjir bandang juga merusak infrasktruktur jalan dan jembatan. Hampir separuh badan jalan utama Pacitan-Ponorogo, di Desa Gegeran ambrol tergerus arus deras banjir. Arus lalu lintas penghubung dua kabupaten itupun menggunakan sistem buka tutup jalur. 

Sarana penyebrangan juga tak luput dari banjir bandang. Tercatat sedikit terdapat empat jembatan gantung, dua jembatan permanen rusak. Bahkan, dua diantaranya hanyut terbawa arus banjir dan hanya menyisakan pondasi dibibir sungai. Terputusnya sarana penyebrangan ini membuat belasan kepala keluarga di Dusung Ngasem, Desa Kedungbendo, terisolir. 

Pemerintah sejatinya berencana mengevakuasi penduduk ke tempat pengungsian, namun warga memilih bertahan di rumah yang terancam banjir dan longsor. 

Hingga Senin pagi, banjir dan longsor di Pacitan telah merenggut 25 orang korban jiwa. Tiga orang korban longsor dan satu korban banjir belum berhasil diketemukan. Musibah terburuk sepanjang sejarah di Pacitan ini membuat ribuan personil TNI, Polri, Tim SAR, relawan dikerahkan ke 3 titik untuk mencari korban hilang. (pul)



Berita Terkait

09-03-2018 | 16:47
Alur Sungai Tersumbat Kontruksi Waduk Tukul, 1 Rumah Te...