Life Style 

Pitonan, Tradisi Anak Dikurung dan Belajar Berjalan
Minggu, 07-01-2018 | 09:10 wib
Oleh : Moch Asrofi
Blitar - Tradisi turun tanah bagi bayi saat berusia 7 menginjak 8 bulan atau pitonan masih dilakukan warga Kabupaten Blitar. Ritual ini menggambarkan persiapan seorang anak menjalani hidup. Tedak siten atau pitonan juga dilaksanakan sebagai penghormatan pada bumi tempat anak mulai belajar menginjak kaki ke tanah.


Tradisi pitonan orang Jawa menamakannya tedak siten atau turun tanah merupakan upacara dalam tradisi warga Blitar, ketika anak pertama kali belajar jalan. Upacara ini dilaksanakan saat anak berusia sekitar 7 atau 8 bulan. Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Muhammad Imron dan Yulia Hima, warga Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Abupaten Blitar. Pasutri ini menggelar tradisi turun tanah untuk putra pertamanya Kirana Farza Nazafarin yang baru berumur 7 bulan atau yang lazim dinamakan pitonan.

Tradisi dimulai dengan sang bayi melewati jadah tujuh warana, jadah diberi perwarna merah, putih, hitam, kuning, jingga biru dan ungu. Penyusunan jadah dimulai dari warna hitam hingga putih, sebagai simbol kelak akan ada jalan keluar bagi masalah berat.

Kemudian anak dituntun menaiki tangga dari batang tebu wululung atau itam kemudian turun lagi, tebu melambangkan tekad hati yang kuat agar anak selalu berbuat baik dan bertanggung jawab.setelah turun dari tangga dari tebu anak diturunkan ke tanah atau atau ceker-ceker hingga dibasuh menggunakan air kembang setamanan.

Selanjutnya, anak itu dimasukkan ke dalam kurungan ayam , di dalam kurungan telah dimasukkan berisi padi, gelang, cincin, alat-alat tulis, sampai bayi tersebut mengambil. Benda yang pertama kali diambil sang bayi akan melambangkan kehidupannya kelak. Seperti yang diambil Kirana pada prosesi ini. Kirana mengambil mainan stetoskop menggambarkan kelak si anak akan menjadi dokter.Tradisi ini dilanjutkan dengan pembagian rizki, uang logam disebar dengan perebutan uang berupa uang logam. Puluhan anak anak yang berkumpul langsung saling berebut, untuk mendapatkan uang.

"Prosesi terakhir , Kirana dimandikan dengan bunga setaman, dengan bau yang harum dan warna warni. Usai dimandikan dengan bunga, sang bayi didandani dengan menggunakan pakaian baru agar terlihat menawan," tutur Muhammad Imron, orangtua bayi.

Tradisi jaman dulu seperti ini oleh keluarga Imron akan terus dihidupkan kembali bagi masyarakat sekitar dan bahkan warga yang  menyaksikan langsung prosesi menyambut positif tradisi langka ini tumbuh kembali.(end)

 




Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062