Opini 

Memaknai Insiden Bendera di Hotel Oranje
Senin, 27-08-2018 | 17:44 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya - Dalam beberapa hari lagi, bulan Agustus akan segera berlalu. Sebagai gantinya, bulan September akan datang. Sebuah peringatan penting bagi arek-arek Suroboyo sudah di depan mata dan kreativitas pun akan menyapa. Sebuah peringatan akan insiden bendera, yang terjadi di atas menara bendera di hotel Majapahit, yang dulunya disebut hotel Oranje dan di masa pendudukan Jepang disebut hotel Yamato.


Tepatnya pada 19 September 1945 peristiwa penyobekan bendera Belanda merah-putih-biru menjadi merah-dan-putih terjadi. Insiden ini adalah sikap nyata arek-arek Suroboyo dan pejuang bangsa dalam mempertahankan kedaulatan bangsa, yang baru saja diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Arek-arek Suroboyo, yang menjadi bagian dari bangsa ini, tidak mau kedaulatan bangsanya diinjak-injak, meski hanya di sejengkal lahan di hotel Oranje. Mereka percaya bahwa bukan tidak mungkin, kelak dari sejengkal selanjutnya akan menjadi sekota dan senusa.  

Sejengkal adalah ukuran fisik. Ukuran non-fisiknya adalah niatan menguasai seluruh negeri. Mereka, orang orang Belanda yang ada di hotel Oranje memiliki niatan ingin merebut kembali kemerdekaan bangsa. Sekelompok orang-orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman dengan sengaja mengibarkan bendera merah-putih-biru pada salah satu tiang bendera hotel pada 18 September 1945, malam hari, tepatnya pukul 21.00 WIB.

Ketika menaikkan bendera merah-putih-biru, mereka tidak minta persetujuan pemerintah RI di Surabaya. Padahal setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 31 Agustus 1945, Soekarno, atas nama pemerintah Republik Indonesia, mengeluarkan maklumat yang isinya menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Merah-Putih harus dikibarkan terus menerus di seluruh wilayah Indonesia.

Esok harinya, 19 September 1945, arek-arek Suroboyo, pemuda dan pejuang Surabaya melihat ada bendera merah-putih-biru berkibar di atas hotel.  Mereka murka. Mereka menganggap orang-orang Belanda, yang menginap di hotel Oranje tersebut, telah menghina kedaulatan Indonesia. Tujuannya hendak merebut kembali kedaulatan bangsa Indonesia.

Tanpa dikomando, rakyat Surabaya berkumpul di depan hotel. Mereka datang dari berbagai kampung di Surabaya. Tidak lama berselang, jalan Tunjungan di depan hotel sudah penuh dengan rakyat Surabaya. Mereka marah. Mereka berteriak teriak agar bendera merah-putih-biru diturunkan dari tiang bendera.

Di tengah kegaduhan itu, Residen Soedirman, seorang pejuang dan sekaligus diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) datang untuk menjadi komunikator antara rakyat Surabaya dan warga Belanda yang menginap di hotel. Sebagai perwakilan RI, Soedirman berunding dengan Ploegman, yang mewakili warga Belanda. Soedirman meminta agar mereka segera menurunkan bendera marah-putih-biru. Namun, permintaan Soedirman atas nama rakyat Surabaya ini ditolak.

Soedirman terus berusaha meminta agar bendera Belanda itu diturunkan. Namun, tetap saja pihak Belanda tidak mau melakukannya dan hingga perundingan berjalan panas. Semakin panas. Puncaknya, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Letupan pistol pun menyalak hingga terdengar di luar ruangan. Suasana semakin tak terkendali. Ploegman akhirnya tewas dalam keributan itu.

Sementara di luar hotel, rakyat Surabaya merangsek masuk ke dalam hotel dan menaiki menara hotel untuk menurunkan bendera merah-putih-biru. Hasilnya bendera, yang awalnya berwarna merah-putih-biru, kemudian disobek warna birunya dan jadilah sang dwi warna, merah-putih. Bendera merah-putih pun dinaikkan kembali ke puncak menara dan Merah-Putih kembali berkibar mengisi maklumat 31 Agustus 1945, yang dibacakan Soekarno sebagai pengawal kedaulatan bangsa, yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Kini, di jaman kemerdekaan, tepatnya masih dalam nuansa peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73, di kota, yang berjuluk kota Pahlawan ini, hadir model penjajahan baru. Penjajahan, yang entah disadari atau tidak, akan mengurangi kadar sejarah kepahlawanan kota Pahlawan. Entah disadari atau tidak, jejak-jejak dan tetenger-tetenger kepahlawanan kota Pahlawan menjadi semakin terkikis dan tak terperhatikan.

Wujudnya sudah nyata. Rumah cagar budaya di jalan Mawar 10 Surabaya sudah hilang karena dirobohkan. Padahal penetapan status cagar budaya pada obyek rumah itu didasarkan pada fakta pernah dipakainya rumah itu sebagai tempat siaran Radio Perjuangan Bung Tomo. Selain itu, monumen Radio Pegupon yang ada di taman Kombes Pol M. Duriyat dibiarkan terbengkelai setelah ada renovasi taman dengan memindahkan patung kepahlawanan ke lokasi yang lebih strategis. Sayangnya, monomen Radip Pegupon, yang awalnya bersanding dengan patung kepahlawanan itu dibiarkan terbengkelai.

Masih ada satu lagi wujud penjajahan moderen. Yaitu penjajahan atas kedaulatan sejarah kota Pahlawan di jalan Gunungsari dan Dinoyo. Ternodainya dan terancamnya jalan Gunungsari dan Dinoyo, yang akan dipotong untuk dinamai jalan Prabu Siliwangi dan jalan Sunda, adalah terancamnya status kekota-pahlawanan Surabaya. Fakta ini sama dengan yang pernah terjadi di hotel Oranje pada 19 September 1945. Ternodainya dan terancamnya kedaulatan di Surabaya, dengan berkibarnya bendera merah-putih-biru di hotel Oranje, adalah terancamnya status kedaulatan bangsa Indonesia.(end)

Sekarang, ayo rapatkan barisan dan jaga kedaulatan bangsamu! Merdeka!


Berita Terkait

01-06-2017 | 12:53
Upacara Hari Lahir Pancasila Diwarnai Insiden Bendera N...


Sponsored Content

loading...


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062