Opini
Gunungsari Bersumber Sejarah dan Bukti
Rabu, 29-08-2018 | 21:11 wib
Reporter : Nanang Purwono
pojokpitu.com Kota Surabaya disebut kota Pahlawan. Sebutan ini tidak terlepas dari latar belakang peristiwa kepahlawanan yang terjadi di Surabaya pada 1945. Tidak hanya di pusat kota, pecah pertempuran Surabaya ini juga menyebar ke daerah pinggiran, termasuk ke kampung-kampung. Maklum, sesaknya kampung menjadi sarana persembunyian dan pelarian yang strategis dari kejaran tentara Sekutu.
Di saat peringatan hari Pahlawan, 10 November, berjuta kepala tertunduk khidmad dan menghormat kepada para pendahulu bangsa, yang telah berjasa merebut kemerdekaan dan sekaligus mempertahankan kemerdekaan, meski nyawa adalah taruhannya. Di saat itu, 10 November, berjuta-juta rakyat Indonesia juga mengingat satu kota, yang menjadi medan pertempuran. Yakni Surabaya.

Kota Surabaya dikenal dan dikenang karena peristiwa kepahlawanannya. Maka, tak heran jika peristiwa kepahlawanan di Surabaya itu menjadi milik bangsa Indonesia.  Oleh karenanya, bangsa Indonesia wajib menjaganya agar nilai-nilainya tidak hilang ditelan jaman. Terlebih bagi warga kota Surabaya sendiri yang mendiami kota Pahlawan. Mereka harus bisa menjadi panutan dalam pelestarian nilai nilai kepahlawanan. Mereka harus bisa menjadi contoh yang baik bagi warga Indonesia lainnya.

Rencana perubahan sebagian nama jalan Gunungsari dan Dinoyo, dianggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai kesejarahan yang tertoreh di jalan Gunungsari dan Dinoyo. Menurut komunitas pemerhati sejarah kota Surabaya dan Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur, jalan Dinoyo dan Gunungsari memiliki catatan sejarah yang sangat penting bagi kota Surabaya. Kedua jalan itu merupakan jalur pertahanan, perlawanan dan pelarian ketika didesak mundur oleh tentara Sekutu, yang diboncengi oleh tentara Belanda.

Ketika sampai di daerah perbukitan Gunungsari, pertahanan pejuang pejuang Surabaya sulit ditembus oleh tentara Sekutu. Butuh beberapa hari bagi tentara Sekutu untuk bisa menembus pertahanan arek arek Suroboyo di daerah Gunungsari. Inilah pertahanan terakhir pejuang Surabaya sebelum akhirnya Surabaya jatuh total ke tangan Sekutu. Itulah Kesejarahan Gunungsari.

Kesejarahan Gunungsari tidak bisa dipungkiri. Beberapa sumber sejarah, bukti dan fakta yang ada menjadi kelengkapan histori Gunungsari. Sejarah Gunungsari tersaji karena memiliki sumber sejarah sebagai bukti. Menurut ahli sejarah Zidi Gazalba, sumber sejarah adalah warisan yang berbentuk lisan, tulisan, dan visual. Sementara menurut Muh. Yamin, sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

Lantas sumber sejarah apa yang dimiliki Gunungsari?

1.Sumber Tertulis.

Sumber tertulis ini merupakan keterangan tentang peristiwa masa lalu, yang disampaikan secara tertulis dengan menggunakan media tulis, seperti batu dan kertas. Terkait dengan peristiwa pertempuran Surabaya di Gunungsari, ada sejumlah buku yang menceritakan  sejarah Gunungsari. Misalnya buku-buku yang berjudul "Pertempuran 10 November 1945" dan "Surabaya Bergolak". Sumber tertulis lainnya adalah buku daftar alamat keluaran resmi pemerintah kota Surabaya tahun 1935. Buku ini memuat alamat-alamat Jalan, Taman, Kampung, Sekolah, Gereja, Pasar dan Bangunan Umum. Buku ini bernama NAAMLIJST: Wegen, Straten, Pleinen, Kampongs, Scholen, Kerken, Passers en Openbare Gebouwen in de GEMEENTE SOERABAIA 1935. Dalam buku itu dicantumkan alamat Perkumpulan Golf Surabaya (Golfclub Soerabaia) yang beralamat di jalan Gunungsari (Goenoengsariweg). Selain buku alamat, juga ada topografi berupa peta kota Surabaya, yang sudah menggambarkan keberadaan jalan Gunungsari dari masa ke masa di era pemerintahan Hindia Belanda.

2.Sumber Lisan.

Sumber lisan ini adalah keterangan langsung dari para pelaku atau saksi mata dari peristiwa yang terjadi di masa lampau. Adalah Soemanto, 90 tahun, seorang veteran Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), yang telah bersaksi di depan gubernur Jawa Timur, Soekarwo, pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 73. Soemanto menceritakan betapa sengitnya pertempuran di Gunungsari dan betapa banyaknya rekan rekan seperjuangan yang tewas di sana. Saksi hidup lainnya adalah Moekari, 95 tahun, veteran Polisi Istimewa. Moekari melihat bagaimana baku tembak dalam jarak yang begitu dekat, 15 meteran, antara pejuang Surabaya melawan Sekutu. Jembatan BAT Ngagel dan jalan Dinoyo adalah tempat yang tidak pernah ia lupakan. Ia selamat dari peluru peluru tajam Sekutu, meski jarak baku tembak itu hanya 15 meter.

3.Sumber Benda.

Sumber benda adalah sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda-benda pertempuran Surabaya. Bahwa di kawasan Gunungsari pernah diketemukan peralatan perang mulai pistol, mortir, topi, termasuk jasad pejuang Surabaya yang tertinggal di medan laga Gunungsari. Jasad para korban pertempuran itu kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan 10 November di jalan Mayjend Sungkono Surabaya dan di lokasi penemuan jasad dibangun sebuah monumen sebagai tetenger penemuan mayat pejuang. Dari benda berupa monumen, yang bernama Kancah Yudha Mas TRIP ini, konstruksi sejarah pertempuran Gunungsari dapat dilihat.

Nah, jelaslah sudah konstruksi kesejarahan jalan Gunungsari mulai sebelum pecah perang Surabaya hingga pecah perang Surabaya tahun 1945. Jalan Gunungsari dan Dusun Gunungsari adalah Gunungsari dalam satu kesatuan yang menjadi untaian sejarah kota Surabaya. Soekarno, yang sempat datang ke Surabaya untuk menyerukan gencatan senjata, menilai bahwa di Surabaya, rakyat dan pemuda berani melawan Sekutu dengan gagah berani dan ini membuktikan bahwa  bangsa Indonesia tidak mau menyerah dan tidak mau diinjak-injak kolonialisme.



Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062