Tempo Doeloe 

Revitalisasi Kota Lama: Menghadirkan Kemolekan Chinese Voorstraat di Jalan Karet
Sabtu, 17-11-2018 | 16:32 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya - Sudah ada ratusan judul tulisan tentang kota lama Surabaya. Ada yang berbentuk artikel, laporan, diary, karya jurnalistik, makalah, majalah hingga buku. Tulisan saya ini tentu menambah daftar panjang judul judul tentang kota lama Surabaya, khususnya tentang kawasan kampung Pecinan. Dari tulisan-tulisan itu, kebanyakan berisi tentang kekaguman terhadap peninggalan masa lalu.


Meski, sebagian besar bangunan-bangunan itu dalam kondisi yang memprihatinkan. Bangunannya banyak yang rusak. Bahkan ada bangunan lama yang kehilangan muka. Yang terlihat hanya bagian atapnya. Bangunan-bangunan baru sudah banyak yang berdiri di deretan barat jalan Karet, menggantikan bangunan lama yang telah dirobohkan karena dianggap kusam dan memedihkan mata. Sementara sebagian kecil bangunan, yang masih kelihatan utuh, berdiri di timur jalan. Salah satunya adalah rumah berarsitektur Cina yang dikenal dengan rumah abu keluarga Han.

Belum lama, rumah abu ini dijadikan penanda upaya revitalisasi jalan Karet. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menandainya dengan mengecat dinding rumah abu keluarga Han. Walikota berharap rumah abu ini bisa menginspirasi pemilik dan pengelola serta penyewa bangunan-bangunan lama di sepanjang jalan Karet ini untuk selanjutnya turut berpartisipasi merevitalisasi kawasan jalan Karet.

Jalan Karet di era kolonial bernama Chinese Voorstraat. Jalan ini merupakan kawasan bisnis dan perdagangan yang ramai di kawasan kampung Pecinan. Keramaian kawasan kampung Pecinan ini terhubung oleh Jembatan Merah (Roodebrug) dengan pusat keramaian kampung Eropa di barat sungai.

Kantor-kantor perdagangan megah menghiasi jalan Karet ini. Salah satu yang secara fisik masih bisa dilihat bentuknya hingga sekarang adalah bangunan bekas kantor Nederlands Handels Maatschappij (NHM) dengan menara yang terlihat menjulang. Bangunan lama, yang berada persis di pojokan jalan Karet di bibir timur Jembatan Merah, juga bagian dari kantor NHM.

Seiring dengan bergantinya jaman, kejayaan Chinese Voorstraat (jalan Karet) menjadi pudar. Pudaran ini seolah nyata tersimbolkan oleh pudarnya warna tembok bangunan-bangunan yang dari berwarna putih bersih, kini telah berubah menjadi kelam dan mengelupas serta terselip tumbuhan liar, yang mencabik cabik struktur bangunan. Tembok pun menjadi rompal dan terbelah. Dalam hitungan waktu, bisa jadi tumbuhan liar ini secara alamiah akan merobohkan bangunan-bangunan ini. Padahal jalan Karet ini menjadi potret dinamika peradaban yang masih bagus untuk direkam dalam ingatan sebagai bekal menata kawasan kota lama demi kesejahteraan masa depan.

Melihat kondisi saat ini, jelas sangat berbeda dengan kondisi kala itu. Ya, katakanlah di tahun 1950-an, setelah kemerdekaan bangsa. Kala itu jalan ini masih memancarkan dinamika urat nadi perekonomian Surabaya. Meski secara fisik, perwajahan jalan Karet ini telah "nglungsungi" atau berganti "kulit", namun secara esensi tempat ini masih bernafaskan ekonomi dan perdagangan seperti dulu. Masih ada fungsi perkantoran di jalan Karet dan ditambah, yang kian bermunculan adalah jasa ekspedisi, jasa pengiriman barang antar kota dan antar propinsi. Tak heran bila di sepanjang jalan ini terparkir kendaraan kendaraan besar yang menyita badan jalan. Akibatnya kemacetan pun terjadi dan menutupi perwajahan bangunan.

Jalan Karet tidak seindah Chinese Voorstraat memang. Genderang revitalisasi kota lama, yang belum lama ini ditabuh di rumah abu Han, seolah memancarkan spirit menyingkap tabir agar bisa mengintip dan menatap keindahan Chinese Voorstraat. Revitalisasi akan menghadirkan keindahan Chinese Voorstraat di jalan karet.

Tidak Gampang dan Butuh Keseriusan

Menghadirkan keindahan Chinese Voorstraat di jalan Karet butuh keseriusan dan kerja keras yang berkelanjutan. Penanganannya tidak bisa sekali bekerja, tapi harus ada pekerjaan lanjutan sebagai tindak lanjut, kemudian diikuti oleh tindak lanjut berikutnya. Pun demikian yang bertindak, mereka harus multi aktor, multi stakeholder yang multi talenta. Menghidupkan jalan Karet tidak hanya menyuguhkan bangunan lawas secara fisik, namun harus mampu memanfaatkan bangunan lawas itu sendiri sebagai sarana peningkatan kesejahteraan.

Sejarawan Universitas Airlangga, Adrian Perkasa mengatakan bahwa perlindungan cagar budaya baru, yang berpedoman pada UU Nomor 11 Tahun 2010, mengandung semangat bahwa perlindungan cagar budaya tidak hanya melindungi cagar budaya secara fisik, tetapi cagar budaya itu sendiri harus bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Semangat ini menjadi pelecut para pelestari cagar budaya, termasuk mereka yang sudah berkomitmen melestarikan jalan Karet. Harapannya jalan Karet bisa menjadi obyek dan tujuan wisata sejarah di Surabaya. Yang harus dipahami sebrsama adalah bahwa jalan menuju mimpi dan harapan ini memang panjang. Tapi pekerjaan harus dimulai sejak sekarang atau mimpi itu akan tetap menjadi mimpi dan tulisan tentang kota lama akan terus bertambah tanpa ada realita.

Kondisi jalan Karet sekarang memang ruwet. Tidak hanya ruwet secara fisik yang tergambar dengan kemacetan dan kekusaman lingkungan. Tapi keruwetan ini juga terjadi pada mindset penghuni jalan Karet, yang tidak lain adalah pengguna, pengelola dan penyewa gedung gedung lama di jalan Karet. Di benak para penghuni ini, jalan karet adalah ladang bisnis. Dari tempat inilah mereka mengais rejeki, bukan mengais jati diri. Lantas, apakah ini berarti bahwa revitalisasi jalan Karet tidak bisa. Jawabannya adalah tidak ada yang tidak bisa. Jawabannya harus bisa, meski harus berproses.

Melihat permasalahan yang tersaji di depan mata ini, maka pemerintah kota Surabaya harus cepat hadir dan ambil tindakan yang riil. Apa yang bisa dilakukan oleh Pemkot harus segera dilakukan sebagai tindak lanjut dari pencanangan revitalisasi oleh bu Wali. Ranah yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah penyelamatan bangunan dari kerusakan alami. Misalnya membersihkan bangunan dari tumbuhan liar yang mencengkeram tubuh bangunan dan merapikan dain dan dahan pohon pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Pekerjaan lainnya adalah membersihkan bangunan dari kekusaman, pembenahan bagian bagian kecil bangunan yang rusak serta membersihkan papan reklame dan unsur unsur lain yang menutupi wajah bangunan.

Pelibatan penghuni jalan Karet dalam revitalisasi sangat perlu. Mereka harus terlibat secara mandiri dan partisipatif. Mereka tidak boleh sebagai penonton. Mereka harus ikut bermain. Termasuk mereka bisa menyadari pentingnya menata kendaraan kendaraan ekspedisi agar tidak mengganggu ketertiban lalu lintas dan pandangan lingkungan. Oleh karena itu harus mulai dipikirkan tentang penataan dan pengaturan kegiatan bongkar muat ekspedisi. Bisa jadi perlu ada terminal bongkar muat untuk kendaraan besar, lalu dari terminal bongkar muat barang ekspedisi dibawa ke dan dari kantor ekspedisi. Atau ada ketentuan ukuran kendaraan yang bisa langsung angkut dan bongkar barang di kantor ekspedisi.

Berikutnya, yang masih pada wewenang pemerintah kota Surabaya, adalah pembangunan dan penyediaan infrastruktur. Misalnya dibuatkan PJU dengan design tiang yang disesuaikan dengan lingkungan. Jika lokasi ini di kampung Pecinan, maka perlu ada ciri khas dari lingkungan yang bisa diadopsi sebagai model tiang lampu. Hal ini untuk menguatkan identitas kampung Pecinan dari kampung lainnya.

Penguatan ciri lingkungan bisa juga dipertegas dengan pembuatan trotoar dan pavingisasi jalan Karet yang material paving stone-nya berbeda dari lainnya. Paving stone harus yang berkwalitas baik dan kuat serta tahan digilas oleh kendaraan-kendaraan besar. Kekhasan matrialan akan menambah eksistensi jati diri dan positioning jalan Karet sebagai obyek dan tujuan wisata sejarah kota lama.

Satu lagi yang tidak kalah pentingnya dalam keberlanjutan revitalisasi adalah tersedianya pusat informasi. Pusat informasi ini juga bisa dimanfatkan sebagai spot restorasi untuk sekedar camilan dan minuman kecil. Pusat informasi ini bisa menjadi wadah berdiskusi publik untuk upaya-upaya pelestarian. Obyek bangunan yang pantas sebagai pusat informasi adalah bangunan di pojok jalan Karet sisi barat, persis di tikungan ke arah Jembatan Merah. Dulu gedung ini adalah bagian dari kantor Nederlands Handels Maatschappij (NHM). (yos)





Berita Terkait

05-12-2018 | 23:00
Menapaki Jejak Kota Lama Surabaya

17-11-2018 | 16:32
Revitalisasi Kota Lama: Menghadirkan Kemolekan Chinese ...

10-09-2018 | 11:26
Bedol Pusaka dari Kota Baru ke Kota Lama Ponorogo

18-04-2015 | 13:41
Jelajah Eksotisme Kota Lama Semarang



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062