Teknologi 

Guru Ini Temukan Metode Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus
Senin, 03-12-2018 | 15:17 wib
Oleh : Mujianto Primadi
Sidoarjo - Seorang Guru Sekolah Dasar di Sidoarjo menciptakan metode pembelajaran unik untuk anak berkebutuhan khusus.


Adalah Harum Kawaludin Guru SDN Sawocangkring Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo. Di sekolah ini terdapat sejumlah siswa berkebutuhan khusus sekitar 26 siswa dengan berbagai karakteristik, jenis dan ketunaan.
 
Untuk memudahkan siswa ABK dalam menulis angka, huruf maupun bercerita, guru Harum Kawaludin menciptakan inovasi alat pembelajaran bernama tangga cerita dan magic mirror.
 
Ide awal membuat inovasi ini karena melihat siswa ABK atau disleksia yang belum bisa mengikuti materi atau pelajaran seperti siswa reguler. Untuk mengatasi hal ini, Harun kemudian melihat kaleder yang mantul di cermin, kemudian dibuatlah magic mirror. "Agar para siswa ABK atau disleksia dapat mengikuti pembelajaran, meski tak semua materi dapat diterima. Sehingga tak ada perbedaan antara siswa ABK maupun siswa regular," kata Harun.
 
Inovasi media pembelajaran magic mirror yang dibuat Harum Kawaludin untuk membiasakan anak yang mengalami disleksia menulis huruf, atau angka dengan benar. Karena anak disleksia terkadang sering menulis huruf atau angka terbalik. Seperti b, p, d dan q.
 
Media lain yang diciptakannya adalah tangga cerita, untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan  bercerita dalam rangka pembentukan karakter siswa. Media ini didesain sebagai stimulus untuk merangsang minat siswa dalam membaca, sehingga kemudian mereka bisa bercerita sesuai alurnya.
 
Inovasi yang dibuatnya ini berhasil memperoleh penghargaan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan, sebagai guru berprestasi tingkat nasional, untuk jenjang SD-SMP penyelenggara inklusi di tahun 2016. Kemendikbud mengirimnya ke Australia untuk mempelajari kurikulum, sistem pendidikan, hingga media pembelajaran untuk murid inklusi.
 
Sementara itu, Pipit Elina, orang tua siswa berkebutuhan khusus mengaku senang bisa menyekolahkan anaknya di SDN Sawocangkring. Sebab sebelum diterima di sekolah ini, anaknya lebih dari lima kali ditolak sekolah dengan berbagai alasan.
 
"Setelah diterima di SDN Sawocangkring dan mengiktui model pembelajaran yang diajarkan oleh guru Harum Kawaludin, anak saya mampu bercerita, menulis dan mengikuti pelajaran lain seperti siswa regular," kata Pipit.
 
Diketahui bahwa SDN Sawocangkring hingga saat ini sudah pernah meluluskan siswa ABK sekitar 9 siswa dari tahun 2013-2017. (pul)


Berita Terkait

19-10-2018 | 14:01
Pembelajaran Berbasis Sosial Dengan Bersih-Bersih Makam...

26-09-2018 | 19:33
Training Nasional Mindset Pembelajaran Disambut Antusia...

23-02-2018 | 22:18
Both Inovasi Pembelajaran Untuk Siswa SD

08-09-2016 | 20:17
Pembelajaran Bahasa Inggris di Kampus Masih Minim



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062