Opini
Mengapa Harus ke Belanda, Jika di Surabaya "Ada"
Kamis, 28-02-2019 | 19:16 wib
Reporter : Nanang Purwono
Jembatan angkat diatas Kaimas, Bibis (1880). Foto: KITLV
Surabaya pojokpitu.com  Terus terang, pertanyaan dalam bentuk judul tulisan di atas menggelitik saya sendiri. Pertanyaan itu sungguh mendorong saya untuk membuat "ada" segera menjadi ada. Lantas, apa yang dimaksud dengan "ada" itu?
"Ada" adalah SLUIS, pintu air yang menjadi akses keluar-masuknya transportasi air (perahu) di Kalimas dan OPHAALBRUG alias jembatan angkat. Kota Surabaya memang pernah memiliki dua infrastruktur sungai tersebut. Kini keduanya sudah mati, tidak bisa dioperasionalkan lagi. Namun sosoknya masih menghiasi sungai Kalimas. Ophaalbrug atau yang lebih dikenal dengan Jembatan angkat masih berada di lokasinya, yang tidak jauh dari pelabuhan rakyat Kalimas. Sedangkan bekas sluis masih terlihat di rolak Gubeng dan Wonokromo.

Semua, jembatan Petekan dan pintu air sluis, tinggal cerita. Cepat atau lambat, bisa jadi cerita-cerita itu akan punah, seiring dengan sisa-sisa infrastruktur yang semakin lama semakin hilang. Ada yang rusak termakan usia. Ada juga yang hilang diambil manusia. Nah, sebelum semuanya hilang sia-sia, harus ada upaya dan tindakan penyelamatan baik secara fisik maupun non fisik (rekontruksi cerita).

Adalah kesempatan ketika pemerintah kota Surabaya kian getol menggelorakan semangat revitalisasi kota lama Surabaya. Selain kawasan darat yang menjadi obyek revitalisasi, kawasan sungai, khususnya Kalimas, juga menjadi target revitalisasi. Kepala Badan Perencanaan dan pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Ery Cahyadi dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti sama sama bervisi menata Kalimas untuk dijadikan wahana wisata air dan sejarah kota Surabaya.

Di kesempatan inilah, infrastruktur air yang mati itu bisa dihidupkan kembali atau setidaknya membangun replika. Niscaya jika mereka menghiasi Surabaya, kota Surabaya akan menjadi satu satunya kota di Indonesia, yang memiliki sarana infrastruktur air seperti yang ada di negeri Belanda. Yakni sluis dan jembatan angkat.

1.SLUIS
Sluis, pintu air untuk akses lalu lalang perahu, bisa dibangun di lokasi pembangunan pintu air Petekan yang saat ini dilakukan re-design. Saya tidak tau seperti apa design baru untuk rumah pompa Petekan, yang lokasinya tidak jauh dari bekas jembatan Petekan itu.

Sebetulnya ada dua contoh model pintu air yang sudah ada sejah jaman kolonial. Satu, model pintu air Jagir yang cara kerjanya adalah membendung air saja. Jika pintu airnya ditutup, maka pintu air ini akan membendung dan menahan aliran air. Jika pintu air ini dibuka, maka pintu air ini akan melepaskan air agar mengalir ke laut.

Model pintu air seperti di Jagir ini tidak bisa dilalui perahu. Karenanya pintu air Jagir ini disebut "Bandjir Sluis" yang fungsinya untuk mengendalikan banjir dan mengatur kebutuhan air yang masuk ke Surabaya.

Model lainnya adalah model pintu air Ngagel dan Gubeng. Model pintu air di Ngagel dan Gubeng ini memiliki dua fungsi. Fungsi pertama adalah sebagai dam untuk membendung atau menahan air agar ketinggian air di sebelah selatan bisa lebih tinggi dibanding di sebelah utaranya. Ketinggian air bisa diatur. Fungsi kedua adalah sebagai sarana keluar masuknya perahu dari elevasi air yang lebih tinggi ke yang lebih rendah atau sebaliknya.

Nah, seperti apa pintu air Petekan yang sedang dikerjaan saat ini (2019)? Mana yang lebih cocok diterapkan di sana? Apakah yang bermodel pintu air Jagir ataukah pintu air Gubeng dan Ngagel?

Agar supaya fungsi dan riwayat Kalimas sendiri sebagai transportasi air tetap terjaga dan sejarah Kalimas tetap lestari, maka model pintu air yang cocok untuk dibangun di Petekan adalah ala Ngagel dan Gubeng.

Di negeri Belanda saja, yang warganya tidak asing dengan infrastruktur ini, pintu air model sluis tetap menjadi daya tarik. Selain sebagai wahana edukasi teknis sebagai negara yang permukaannya berada di bawah permukaan laut, sluis bisa dijadikan sebagai atraksi wisata yang menarik perhatian dunia. Jangankan wisatawan manca negara yang kagum dengan cara kerja sluis, para orang tua di Belanda ini tetap memperkenalkan sluis pada anak anaknya.

Nah, jika pintu air model Gubeng dan Ngagel dibangun di pintu air Petekan, maka Surabaya akan menjadi satu satunya kota di Indonesia yang memiliki pintu air serupa dengan yang ada di Belanda.


2.JEMBATAN ANGKAT

Surabaya masih memiliki bukti otentik bahwa Surabaya pernah memiliki jembatan, yang bisa diangkat untuk memberi akses perahu perahu yang lewat di bawahnya. Jembatan itu adalah Jembatan Petekan (Ferwerdabrug), yang ada di jalan Jakarta. Dahulu, jembatan Petekan bukan satu satunya jembatan yang bisa diangkat. Jembatan serupa lainnya pernah ada adalah di Bibis, Ketabang dan Sonokembang. Kini hanya bekas Jembatan Petekan, yang masih bisa dilihat sosoknya dan tetap dibiarkan berdiri sebagai monumen.

Saya mendengar ada harapan untuk mengembalikan keutuhan Jembatan Petekan ini, yang tentu saja sosoknya diharapkan akan bisa melengkapi wisata pintu air Petekan dan secara umum menambah atraksi wisata Kalimas. Jika rencana itu termasuk akan menghidupkannya lagi, tentu akan kurang bermakna karena di sisi utara dan selatannya sudah ada jembatan kembar. Menurut saya, cukuplah untuk membangun kembali bentuknya saja seperti sedia kala sebelum runtuh.

Justru, jika ada harapan ingin menghidupkan jembatan angkat untuk menambah atraksi wisata Kalimas, maka lebih baik membangun sebuah replika jembatan angkat di dekat Jembatan Merah. Jembatan angkat replika ini bisa meniru model jembatan angkat yang pernah ada di Bibis. Jembatan angkat ini tentu manjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat moderen dan akan menjadi sarana edukasi yang menarik.

Apalagi jika dibangun di kawasan kota lama Surabaya, tepatnya di ruas Kalimas depan gedung Internasio. Pada jam jam tertentu untuk tujuan atraksi wisata, jembatan ini bisa diangkat. Publik bisa menonton di sekitaran jembatan. Inilah yang akan menjadi satu satunya jembatan model kuno ala Belanda di Indonesia yang masih berfungsi.

Nah, jelas sudah bahwa pintu air Sluis dan jembatan angkat Ophaalbrug seperti, yang masih ada di Belanda, akan menjadi satu satunya sluis dan jembatan angkat yang bisa operasional di Indonesia. Tidak salah jika kelak kita dengan bangga bisa mengatakan "Mengapa harus ke Belanda, Jika di Surabaya ada,"


Berita Terkait

Peristiwa
Pondasi Jembatan Antar Kecamatan di Magetan Ambrol Sepanjang...selanjutnya
09-09-2019 | 15:49 wib

Peristiwa
Proyek Pelebaran Jalan dan Jembatan Dikeluhkan Warga
29-08-2019 | 17:30 wib

Malang Raya
Jembatan Janti Barat Malang Dibongkar, Warga Bingung Cari Ja...selanjutnya
11-08-2019 | 05:30 wib

Peristiwa
Ratusan Rumah Warga Akan Terdampak Rencana Pembangunan Jemba...selanjutnya
07-08-2019 | 03:15 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062