Opini
Alun-Alun Simpang Lebih Sesuai Daripada Alun-Alun Surabaya. Mengapa?
Senin, 04-03-2019 | 14:25 wib
Reporter : Nanang Purwono
Simpangsche Societeit berubah nama menjadi Balai Pemuda. Foto: Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com  Tulisan ini adalah edisi sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul "Dimanakah Alun Alun Surabaya?". Tulisan ini sekaligus menjadi ekspresi kekuwatiran saya akan lenyapnya alun alun Surabaya baik secara fisik maupun non fisik (cerita dan literasi). Secara fisik, sisa dari alun alun Surabaya ini sesungguhnya masih dapat diamati. Kekawatiran saya ini menyusul adanya rencana penamaan ruang terbuka publik di kawasan Balai Pemuda dengan nama "alun alun Surabaya".
Seperti yang telah saya ulas pada tulisan sebelumnya "Dimanakah Alun Alun Surabaya", bahwa makna "alun alun" ini memiliki arti penting bagi sebuah eksistensi kota. Selain sebagai simbol kekuasaan, pemerintahan dan sosial, alun alun adalah simbol kesakralan. Tidak terkecuali alun alun Surabaya yang pernah ada.

Alun alun Surabaya yang sakral itu berada di lahan luas yang sekarang menjadi kawasan Tugu Pahlawan. Di tempat itulah, sebagaimana konsep alun alun di semua kota Jawa, Surabaya pernah memiliki untaian micro dan macro cosmos. Yakni sebuat titik yang menjadi simpul dan simbol macro cosmos dan micro cosmos.

Bekas alun alun Surabaya ini sebetulnya masih bisa diidentifikasi meski beberapa unsur pendukung keberadaan alun alun telah hilang. Misalnya masjid jamik, pendapa, pasar dan bahkan penjara. Di kawasan ini memang pernah berdiri tata kota lama tradisional sebagaimana induknya di Mataram. Maklum, sejak 1625 Surabaya pernah dibawah pengaruh Mataram.

Karenanya, sistim pemerintahan di Surabaya waktu itu banyak dipengarui oleh pemerintahan kerajaan Mataram. Sampai sampai kawasan pusat pemerintahannya pun bagai miniatur keraton. Tata caranya juga mengadopsi tradisi keraton. Hingga saat ini pun bahasa daerah yang diajarkan di sekolah sekolah di Surabaya masih menggunakan bahasa Jawa ala Mataraman.

Padahal bahasa lokal Surabaya yang bersifat Arek memiliki perbedaam dari bahasa Mataraman. Bahasa Arek, yang umumnya dipakai oleh warga Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Gresik sedikit berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai di daerah yang hingga sekarang disebut dsrah Mataraman. Seperti misalnya bahasa Jawa yang dipakai di Kediri, Tulungagung, Blitar, Madiun, Ngawi dan lainnya yang bertetangga dengan Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Saking sakralnya "alun alun Surabaya", penyebutan dan bahkan penggunaan nama "alun alun Surabaya" untuk ruang terbuka publik begitu dihindari. Mari kita berkaca kepada para pendahulu, para pemangku Surabaya sebelumnya. Betapa mereka sangat menghargai makna kesakralan.  Alun alun sungguh bersifat sakral dan profan. Karenanya mereka tidak gegabah untuk menyebut dan mengunakan nama "alun alun Surabaya" untuk sebuah ruang terbuka publi,  meski kala itu ada beberapa ruang terbuka yang menjadi titik bertemunya warga Surabaya.

Alun alun, yang ada di Surabaya selain alun alun Surabaya atau alun alun Surapringga, adalah alun alun Tjontong, alun alun Dinoyo dan Willemsplein (Taman Willems atau Alun Alun Raja Willems)

Alun alun Tjontong ukurannya tidak seluas alun alun Surabaya atau Surapringga. Alun alun Tjontong jauh lebih kecil tapi sama sama menjadi titik bertemunya masa. Apalagi kala itu, persis di selatannya berdiri sebuah gedung hiburan yang berbentuk bioskop. Di satu gedung ini terdapat dua gedung bioskop. Secara arsitektural gedung ini simetris, serasi dan berimbang. Gedungnya menghadap ke utara, ke arah alun alun Tjontong. Di sudut barat dan timur bangunan dilengkapi menara. Orang bilang menara kembar. Gedung ini konon melambangkan keserasian dan kesuburan. Dua gedung bioskop ini masing masing bernama KING dan QUEEN. Ada sifat maskulin dan fiminin yang terekspresikan dari satu gedung ini. Karena menjadi tempat hiburan inilah, alun alun Tjontong menjadi landmark. Bahkan di setiap pinggiran alun alun menjadi parkiran dokar sebagai sarana angkuta publik kala itu. Dikatakan alun alun Tjontong karena bentuk alun alunnya yang berbentuk segitiga atau membentuk contong. cum-cum atau cone. Bentuk alun alun ini memang tidak seperti umumnya alun alun yang kotak atau persegi. Alun alun Tjontong berbentuk seperti contong, segitiga.

Jika dilihat dari atas, maka komplek alun alun Contong ini terlihat seperti contong yang berisi makna kesuburan dan keserasian yang disimbolkan dengan gedung bioskop King dan Queen. Simbol keserasian dan kesuburan lainnya selain  terdapat di alun alun Tjontong, juga terdaoat di candi Ceto, dimana pada lantai pintu gerbangnya terdapat relief bertemunya simbol penis dan vagina.

Ketika bangsa kolonial mulai masuk Surabaya di seperempat pertama, abad 17 (1625), mereka mulai menata suatu permukiman mulai dari yang berkepentingan dagang hingga kepentingan sipil. Dalam perjalanan waktu menata kampung Eropa (terpisah dari permukian etnis lainnya), mereka membuat sebuah wilayah administrasi baru. Ukurannya lebih luas dari sekedar untuk kepentingan dagang. Kepentingannya sudah beranjak ke kepentingan militer, industri hingga perdagangan yang lebih umum. Selanjutnya terbentuklah sebuah kota. Mereka mengatakan, sebagaimana tergambar pada peta peta kuno, kota ini bernama STAD VAN SOURABAYA. Artinya kota Surabaya.

Area Stad van Sourabaya ini dibatasi oleh tembok melingkar yang di setiap sudut tembok dilengkapi dengan pos penjagaan. Fasilitas kota ini di jamannya relatif lengkap. Ada kantor pemerintah, perbankan, asuransi, rumah sakit, pabrik, gereja, sekolah hingga lapangan publik terbuka. Lapangan terbuka inilah, yang kalau dilihat dari fungsinya, bisa disebut alun alun. Namun pejabat kolonial di Sourabaya tidak mengatakan aloon aloon atau aloen aloen. Mereka, pejabat kolonial yang diawali dari masa VOC, menggunakan nama "plein" yang artinya Taman. Lapangan hijau terbuka, yang mirip alun alun itu, dinamakan WILLEMSPLEIN atau Taman Willems. Bisa juga diterjemahkan bebas menjadi Alun Alun Raja Willems. Kemudian pada masa pasca kolonial, lapangan ini disebut TAMAN JAYENGRONO.

Menariknya dan yang perlu dihargai atas perhatian dan jasa jasanya itu adalah pejabat di masa pasca kolonial juga sangat bijak dalam mengindonesianisasi nama taman yang berbau kolonial. Nama WILLEMSPLEIN, Taman Willems, diganti dengan nama TAMAN JAYENGRONO. Penggunaan nama Jayengrono, yang tidak lain adalah nama petinggi Surabaya, ADIPATI JAYENGRONO, adalah sangat cocok. Seimbang dan setara. Sama sama nama pejabat tinggi. Yang satu pejabat tinggi kerajaan Belanda, Raja Willem.. Satunya lagi pejabat tinggi Surabaya, Adipati Jayengrono. Kini Willemplein yang bertransformasi menjadi Taman Jayengrono, berubah nama lagi menjadi Taman Sejarah.

Lapangan terbuka lainnya, yang mirip dengan fungsi alun alun tetapi tidak memakai nama alun alun Surabaya, adalah alun alun Dinoyo. Siaoa yang tidak kenal nama Dinoyo. Namanya sempat kuat mencuat karena kasus perubahan nama jalan dari jalan Dinoyo menjadi jalan Sunda. Mengapa pula para pegiat sejarah protes terkait dengan perubahan nama jalan itu?. Karena

Dinoyo adalah satu kawasan kuno, yang kemudian sebagian menjadi pilihan orang orang Belanda sebagai kawasan perkampungan kolonial. Yakni Dinoyo Tangsi. Di dalam kampung itulah terdapat sebuah alun alun yang dinamakan alun alun Dinoyo. Kelengkapan alun alun dalam skala kecil ini juga terdapatnya pasar. Keberadaan sebuah alun alun bisa saja ada mulai dari tingkat propinsi, karesidenan, kabupaten, kawedanan, kecamatan hingga kelurahan. Alun alun Di oyo adalah salah satunya di tingkat rendah. Keluranan. Alun alun di Dinoyo Tangsi bernama alun alun Dinoyo, bukan alun alun Surabaya.

Lantas di era milenial, muncul lagi istilah alun alun, tapi diungkapkan dalam bahasa kosmopolitan. Namanya menggunakan bahasa asing. Yaitu Surabaya Town Square yang disingkat Sutos. Lokasinya berada di dalam komplek perbelanjaan moderen. Di dalamnya terdapat ruang terbuka. Tapi tidak berwana hijau. Tidak berumput sebagaimana mestinya alun alun konvensional. Alun alun ala kosmopolitan ini berkontruksi beton yang dipagari dengan bangunan moderen, bukan beringin. Tempat ini menjadi jujugan dan kongkow kongkow publik. Bahkan menjadi ajang pameran komunitas. Ada komunitas mobil berkelas, seperti Ferrary dan masih ada lagi, yang nilainya miliaran rupiah. Juga banyak penjual makanan. Semuanya serba moderen.  Bukan lagi warung, tapi kedai dan restoran.

Yang terbaru adalah akan adannya alun alun baru di tengah kota. Lokasinya di komplek Balai Pemuda. Persis di pojokan jalan Yos Sudarso dan Gubernur Suryo serta Pemuda. Ruang terbuka, yang oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini akan dinamakan Alun Alun Surabaya, ini sangat strategis. Letaknya di jantung kota. Keren. Atas kelebihan kelebihan itu, tentu nama alun alun Surabaya ini akan cepat melambung tinggi dan mudah dikenal orang. Terutama oleh generasi jaman now, melenial. Alun alun Surabaya akan mudah menempel di benak mereka. Ini semua karena lokasi yang sangat mendukung.

Jika hal ini terjadi, di satu sisi dapat berarti sebuah keberhasilan, tapi di sisi lain adalah sebuah keprihatinan. Sebab generasi sekarang dan mendatang akan lebih mengenal dan mengetahui bahwa alun alun Surabaya itu terletak di sekitar Balai Pemuda. Bukannya di kawasan Tugu Pahlawan, yang lengkap dengan pendopo kadipaten Suropringgo (Suroboyo). Dengan demikian, sejarah Surabaya, termasuk sejarah sistim pemerintahan Surabaya akan hilang. Generasi sekarang dan mendatang tidak akan mengenal bahwa Surabaya pernah berbentuk kadipaten, kabupaten, kotamadya dan kini akhirnya menjadi kota.

Maka, secara bijak, nama alun alun Surabaya hendaknya tidak disematkan pada fasilitas kota yang baru di kawasan Balai Pemuda. Ruang terbuka publik ini akan lebih pantas bila dinamai ALUN ALUN SIMPANG. Mengapa harus memakai nama Simpang? Karena upaya inilah yang berkearifan lokal. Nama inilah yang akan turut menjaga sejarah alun alun Surabaya yang pernah bertengger di kawasan Tugu Pahlawan.


Nama SIMPANG untuk sebuah ruang terbuka publik yang bernama ALUN ALUN SIMPANG sangat pantas karena nama itu akan mengangkat kearifan lokal. Nama alun alun Simpang akan mengangkat sejarah lokal.

Simpang adalah sejarah Surabaya. Simpang adalah nama lokal, nama endemik seperti Tunjungan dan Darmo. Namun, jika dibandingkan Tunjungan dan Darmo, justru nama Simpang ini kian meredup. Bahkan nama nama yang pernah menggunakan kata "Simpang", kini kian hilang.

Mari kita simak bersama. Nama Rumah Sakit Simpang sudah tiada. Gedung rumah sakitnya dibongkar menjadi plaza. Nama jalan Simpang juga sudah tiada, diganti menjadi jalan Pemuda dan Gubernur Suryo. Nama sebuah perkumpulan Simpangsche Societeit juga sudah hilang, berganti menjadi Balai Pemuda. Nama istana di era Hindia Belanda "Huiz van Simpang" juga sudah mati. Kini menjadi nama gedung Grahadi. Nama Simpang Lonceng sudah mulai menghilang. Hanya satu yang masih bertahan dengan nama Simpang. Yaitu Apotik Simpang.

Nah, jika nama ruang terbuka publik di kawasan Balai Pemuda dan perempatan Pemuda ini diberi nama ALUN ALUN SIMPANG maka lebih berartilah pemberian nama itu. Mengapa? Sebab nama Alun Alun Simpang akan menggali lagi kearifan lokal, kebanggaan akan kawasan yang begitu indah mulai dulu hingga sekarang. Upaya ini akan menghidupkan dan mengangkat lagi nama Simpang. Sebuah nama yang sudah dikenal hingga Eropa.

Mari kita renungkan sebelum nasi berubah menjadi bubur. Mari kita renungkan sebelum terlanjur. Nama Alun Alun Simpang tidak hanya dapat menggali sejarah kearifan lokal yang membanggakan, tetapi juga menyelamatkan potensi terkuburnya kisah alun alun Surabaya (Surapringga) di kawasan Tugu Pahlawan.

Sekarang, anda pilih mana "Alun Alun Simpang" atau "Alun Alun Surabaya"? (yos)




Berita Terkait

Opini
Alun-Alun Simpang Lebih Sesuai Daripada Alun-Alun Surabaya....selanjutnya
04-03-2019 | 14:25 wib

Opini
Dimanakah Alun-Alun Surabaya ?
02-03-2019 | 00:37 wib

Peristiwa
Percantik Wajah Alun-Alun, Pemkab Gelontor Rp. 1,2 Miliar
17-01-2016 | 06:26 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062