Peristiwa 

Manfaatkan Bahan Alami, Batik Ecoprint Diminati Pasar Luar Negeri
Jum'at, 24-05-2019 | 21:15 wib
Oleh : Agus Bondan
Tulungagung - Dengan memanfaatkan aneka dedaunan, kulit pohon, serta kulit buah yang banyak tumbuh di pekarangan rumah, pasangan seniman di Tulungagung, Elies Zulfa mastuti dan Muhamad Ashary, mengembangkan produk batik alami.


Dengan teknik ekoprint atau menempelkan dedaunan pada kain untuk menghasilkan motif batik, warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung ini, mencoba meramaikan pasar batik dalam dan luar negeri.

Berbeda dengan proses pembuatan batik tulis maupun cetak, proses pewarnaan kain dengan teknik ekoprint dilakukan terlebih dulu. Kain mori yang telah diwarnai kemudian ditempeli dedaunan untuk mencetak motif sekaligus corak warna.

Daun yang biasa digunakan adalah daun pohon keras seperti daun jati, dan daun johar, sementara untuk pewarnaan kain, Elies biasa menggunakan kulit pohon mahoni untuk warna oranye kecoklatan, kulit manggis untuk warna coklat keunguan, bawang merah untuk warna merah, dan kulit tunjung untuk menghasilkan warna hitam.

Setelah ditempeli dedaunan dengan tatanan tertentu, kemudian kain digulung dan direbus selama kurang lebih dua jam. Dari proses tersebut akan muncul hasil batik pola daun alami yang dikenal dengan batik ekoprint.

"Selain warna yang dihasilkan lebih lembut, batik ekoprint terbilang ekslusif. Sebab pola batik tidak dapat dibuat sama persis antara produk satu dengan lainnya," kata Elies Zulfa Mastuti, perajin batik ecoprint.

Selain diminati pasar lokal, batik ekoprint karya elis ini cukup diminati wisatawan asing. Menurut Elis, saat mengikuti pameran dan kurasi di Jakarta beberapa wakti lalu, selain mendapatkan penghargaan, batik karyanya juga diborong penggemar batik dari Australia dan beberapa negara lain yang hadir saat itu.

Meski proses pengerjaan lebih simpel dibanding batik tulis, kekhasan batik ramah lingkungan ini membuat harga batik ekoprint bernilai jual tinggi. Selembar kain batik ekoprint dengan panjang rata-rata dua mete, dijual antara Rp 450 ribu hingga Rp 1,5 juta. (yos)


Berita Terkait

27-05-2019 | 13:04
Anak Anak Isi Waktu Libur Ramadhan dengan Membatik

24-05-2019 | 21:15
Manfaatkan Bahan Alami, Batik Ecoprint Diminati Pasar L...

19-05-2019 | 05:30
Omzet Perajin Batik Tulis Pamekasan Meningkat Menjelang...

17-05-2019 | 21:20
Omzet Pesanan Baju Batik Meningkat Menjelang Lebaran


Sponsored Content

loading...


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062