Opini 

Caption: Para pegiat sejarah Surabaya menyerukan penyelamatan Benteng Kedung Cowek melalui diskusi publik di hotel mojopahit (9/6). Foto Nanang Purwono
Selamatkan Benteng Kedung Cowek
Selasa, 11-06-2019 | 13:15 wib
Oleh : Penulis: Nanang Purwono, Wapimred JTV/Penulis Bent
Surabaya - Ada dokter Urip Murtedjo (Ketua Forum Pers RSUD Dr Soetomo), ada Dukut Imam Widodo (penulis buku buku Sejarah), Heri Lentho (seniman budayawan Surabaya), Musdiq Ali Suhudi (Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya), Adrian Perkasa (sejarawan dan akademisi UNAIR yang juga sebagai anggota TACB Jatim), Andy Mappajaya (arsitek ITS), Irfan Utamin (pengusaha wisata Surabaya), Muhammad Chotib (tokoh dan pegiat wisata heritage Ampel), Ina Silas (General Manager PT Golf Taman Dayu, mantan direktur House of Sampoerna), beragam anggota komunitas pegiat sejarah, guru sejarah dan masih banyak lagi peserta darimasyarakat umum hadir dalam sebuah diskusi tentang upaya penyelamatan dan pelestarian Benteng Kedung Cowek, Surabaya.


Diskusi publik yang bertajuk "Benteng Kedung Cowek, Sebuah Fragmentasi Berkelanjutan" ini digagas dan digelar oleh Roodebrug Soerabaia, sebuah komunitas pegiat sejarah Surabaya. Gagasan spontanitas ini muncul untuk menyikapi terdengarnya kabar bahwa Benteng Kedung Cowek yang terletak di pesisir timur Surabaya sudah berpindah kepemilikan. Yakni dari aset TNI AD Kodam V/Brawijaya ke pihak swasta. Kabar inii sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Antiek Sugiarti, kepada sebuah harian Surat Kabar di Surabaya.

Kabar ini juga dikuatkan oleh ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Surabaya, Dr. Retno Hastijanti, yang mengatakan bahwa lahan tempat bangunan benteng tengah dalam proses tukar guling dari pemilik TNI AD Kodam V Brawijaya ke PT Kapal Api,yang prosesnya masih di Kementerian Keuangan RI. Retno juga menegaskan bahwa saat ini lahan beserta bangunan Benteng di Kedung Cowek adalah milik TNI AD, yang dalam hal ini adalah Kodam V Brawijaya. Menurut sumber di internal Kodam V Brawijaya bahwa lahan dan benteng itu, saat ini, adalah milik Kodam V Brawijaya, yang rencananya dikembangkan untukpangkalan satuan baru yang ada kaitannya dengan air. Dari sejumlah alternative yang ada di sekitaran air (laut) di Jawa Timur, hanya kawasan pesisir Kedung Cowek (Benteng) yang memungkinkan (feasible) untuk pengembangan satuan baru tersebut.

Kabar peralihan kepemilikan inilah yang membuat para pegiat dan pemerhati sejarah Surabaya yang tergabung dalam beragam komunitas menjadi kawatir. Kekawatiran ini sangat beralasan dan masuk akal. Sebab bangunan bersejarah, yang dirancang tentara Belanda untuk sistim pertahanan Surabaya di awal abad ke 20, belum ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya. Konsekwensinya adalah bangunan, yang usianya sudah lebih 100 tahun ini, rawan dibongkar untuk pengembangan kawasan pesisir timur Surabaya dengan konsep water/sea frontnya.

Menurut UU No 11 Tahun 2010, Bab III - Kriteria Cagar Budaya, Bagian kesatu tentang Benda, Bangunan dan Struktur, Pasal 5 bahwa bangunan Benteng Kedung Cowek di pesisir timur Surabaya ini sudah memenuhi kriteria Cagar Budaya. Selain sudah berusia lebih dari 50 tahun, bangunan ini mewakili gaya sedikitnya 50 tahun, serta memiliki peran sebagai sumber ilmu pengetahuan, pendidikan serta penelitian. Adrian Perkasa sebagai sejarawan dan anggota TACB Propinsi Jawa Timur dan Dr. Retno Hastijanti sebagai ketua TACB Kota Surabaya secara terpisah mengatakan bahwa Benteng Kedung Cowek sudah layak ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya yang layak dilindungi.

Pertanyaannya sekarang adalah, secara awam, mengapa Benteng Kedung Cowek belum ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya. Hal inilah yang menjadi kekuwatiran para pegiat sejarah termasuk berbagai pihak yang hadir dalam diskusi "Benteng Kedung Cowek, Sebuah Fraqmentasi Berkelanjutan". Ada sekitar 150 peserta menjejali ruang Shima Hotel Mojopahit pada Minggu, 9 Juni 2019. Acara ini menampilkan 3 pembicara yang masing-masing telah membuat karya tulisnya terkait dengan Benteng Kedung Cowek.

Pembicara pertama adalah Ady Setyawan, pendiri Komunitas Roodebrug, yang telah menerbitkan buku berjudul "Benteng Benteng Surabaya" (2015). Pembicara kedua adalah Nanang Purwono, produser acara TV "Blakraan" yang pernah menerbitkan buku berjudul "Benteng Benteng Soerabaia" (2011). Hampir sama judulnya, tapi karya Nanang Purwono dalam penulisan judulnya memakai ejaan lama pada kata Surabaya. Yakni "Soerabaia". Sedangkan pembicara ketiga adalah Nisita Hapsari, alumni ITS yang dalam tugas akhirnya menulis tentang Pemanfaatan Benteng Kedung Cowek sebagai obyek wisata. Acara diskusi ini dimoderatori oleh Kuncarsono Prasetyo, pegiat Sejarah Surabayadan inisiator Gerakan Surabaya Mbois.

Dari paparan ketiga pemateri ini, sebuah kolaborasi dimensi waktu Benteng Kedung Cowek tersaji dengan apik. Ady Setyawan menggali later belakang Sejarah Benteng Kedung Cowek. Nanang Purwono dengan pembanding benteng benteng di Jawa Timur dan Jawa Tengah mengadvokasi para stakeholders untuk upaya pencagar budayaan Benteng Kedung Cowek. Sementara Nisita Hapsari menawarkan gagasan kreatifnya merancang kawsan Benteng Kedung Cowek sebagai museum sejarah dan rekreasi.

Di akhir dari pemeparan dan diskusi dengan para peserta, ada satu kata sepakat, rekomendasi diskusi, yang harus segera dilakukan. Yaitu dorongan menetapkan Benteng Kedung Cowek sebagai bangunan Cagar Budaya kota Surabaya. Dokter Urip Murtedjo berpendapat bahwa penyelamatan Benteng Kedung Cowek melalui penetapan sebagai bangunan Cagar budaya adalah langkah yang sangat tepat karena bagaimanapun Benteng Kedung Cowek menjadi saksi bisu pertempuran Surabaya. Menyelamatkan dan melestarikan Benteng Kedung Cowek adalah mewarisi nilai nilai kepahlawanan Kota pahlawan Surabaya. Kesimpulan ini menjadi bentuk rekomendasi yang akan diteruskan kepada Pemerintah Kota Surabaya sebagai pihak berwenang yang menerbitkan status cagar budaya melalui Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya. Selain itu, tim perumus diskusi (panitia) juga akan melakukan audensi kepada Panglima Kodam V Brawijaya untuk menyampaikan hasil hasil dari diskusi yang bertajuk "Benteng Kedung Cowek, Sebuah Fraqmentasi Berkelanjutan".

Semoga keberadaan Benteng Kedung Cowek di pesisir timur Surabaya ini semakin menambah khasanah wahana edukasi dan rekreasi yang saat ini tengah dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Taman Surabaya dengan patung Surabayanya sudah menambah iconic Kota Surabaya. Belum lagi jembatan Suramadu yang membentang di selat Madura. Tentu Benteng Kedung Cowek akan semakin menambah daya tarik kawasan yang ada di kecamatan Bulak Surabaya ini. (pul)





Berita Terkait

11-06-2019 | 13:15
Selamatkan Benteng Kedung Cowek

10-06-2019 | 11:20
Pegiat Sejarah Desak Pemkot Terbitkan SK BCB Benteng ...

03-06-2019 | 23:48
Benteng Kedung Cowek Tetaplah Kau Berdiri Disana

14-12-2015 | 01:31
Benteng Kedung Cowek Saksi Sejarah yang Nyaris Terlupa...


Sponsored Content

loading...


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062