Ekonomi Dan Bisnis
Arum Sabil : Impor Gula Seharusnya Dikuasai Negara
Selasa, 18-06-2019 | 12:09 wib
Reporter : Bagus Setiawan
Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil,
Surabaya pojokpitu.com  Dari tahun ke tahun, persoalan gula masih menjadi polemik. Hal itu disebabkan karena kebutuhan konsumsi gula secara nasional terus meningkat dan tidak sebanding dengan produksi gula yang dihasilkan pabrik gula dalam negeri.
Berita Video : Arum Sabil : Impor Gula Seharusnya Dikuasai Negara
Menurut Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil, saat 5 tahun yang lalu komsumsi gula per kapita masih tercatat 18 kg. Namun data terbaru komsumsi gula per kapita sudah mencapai 22-24 kg.

"Coba kalikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 260 juta jiwa, kebutuhan gula kita secara nasional bisa mencapai hampir 6 juta ton dengan konsumsi gula per kapita 24 kg," kata Arum Sabil saat ditemui di rumahnya di Gayung Sari Barat, Surabaya, Senin (17/06)

Ironisnya, produksi gula secara nasional dari tahun ke tahun terus menurun. Dari catatan Arum Sabil, produksi gula 5 tahun lalu masih tercatat di angka 2,5 juta ton. Pada tahun 2018, produksi gula secara nasional turun menjadi 2,1 juta ton. Bahkan tahun ini produksi gula secara nasional berpotensi anjlok dibawah 2 juta ton.

Kondisi ini sesuai fakta di lapangan, luas tanaman tebu secara nasional juga terus menyusut. Jika 2-3 tahun yang lalu luas tanaman tebu masih berkisar 470 ribu-500 ribu hektar, kini luas tanaman tebu secara nasional menyusut menjadi 400 ribu hektar.

Sementara, kebutuhan gula secara nasional untuk konsumsi serta industri makanan dan minuman sudah mencapai 5,7-6 juta ton. Sedangkan untuk kebutuhan rumah tangga sekitar 3 juta ton. "Kalau untuk kebutuhan industri mamin sudah selesai
dengan gula rafinasi. Tapi untuk kebutuhan rumah tangga ini kan ada idle hampir 1 juta ton. Jika produksi gula secara nasional dibawah 2 juta ton bisa bahaya," ujar lelaki asal Jember ini.

Untuk itu, pemerintah harus segera melakukan pembenahan di sektor gula, salah satunya membenahi tanaman tebu varietas unggul dan menghidupkan kembali riset penelitian tentang tanaman tebu. "Harapan pemerintah, petani tebu bisa menghasilkan 100 ton tebu per hektar. Tapi faktanya sekarang justru dibawah 70 ton per hektar." imbuhnya.

Terkait kebutuhan gula yang selama ini harus impor, sebagai perwakilan petani tebu rakyat, Arum Sabil berharap Presiden Joko Widodo segera bergerak. "Impor itu jangan sampai dikuasai oleh swasta. Impor gula harus dikuasai oleh negara. Impor dihadirkan bukan untuk memukul atau mematikan, tapi untuk kepentingan stabilitas harga yang bisa mendatangkan efek yang bermanfaat," katanya.

Dengan melibatkan perusahaan milik negara atau BUMN, impor gula nantinya bisa bermanfaat untuk negara dan rakyat. Bahkan, hasil keuntungannya bisa digunakan negara untuk mensubsidi, membenahi dan merevitalisasi pabrik-pabrik gula yang sudah tua. "Kalau sampai impor dikuasai oleh swasta, mereka hanya berburu keuntungan dan tidak memikirkan Indonesia menuju kemandirian pangan yang berdaya saing," pungkasnya. (pul)


Berita Terkait

Ekonomi Dan Bisnis
Arum Sabil : Impor Gula Seharusnya Dikuasai Negara
18-06-2019 | 12:09 wib

Peristiwa
Awal Masuk Kerja, Ribuan PNS Antre Mengular untuk Bersalaman...selanjutnya
10-06-2019 | 15:15 wib

Life Style
Ini 10 Pengaruh Buruk Kebanyakan Gula Bagi Tubuh
08-04-2019 | 09:20 wib

Ekonomi Dan Bisnis
Hasil Petani Tebu Harus Dijual Kepada Bulog, Produksi Gula M...selanjutnya
25-03-2019 | 16:23 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062