Mlaku - Mlaku
Eksotika Bromo di Lautan Pasir Gunung Bromo Pukau Wisatawan
Minggu, 14-07-2019 | 11:57 wib
Reporter : Farid Fahlevi
Probolinggo pojokpitu.com  Untuk kali ke-3, pertunjukan Eksotika Bromo kembali digelar di lautan pasir Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu sore, dengan tajuk Eksotika Bromo Kidung Tengger. Ada beberapa penari kesurupan usai tampil tari jaranan. Petugas sempat kuwalahan saat penari terus meronta.
Berita Video : Eksotika Bromo di Lautan Pasir Gunung Bromo Pukau Wisatawan
Sajian seni tari yang bersanding dengan alam menjadi konsep festival Eksotika Bromo kali ini, yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata Masyarakat Tengger di Kaldera Gunung Bromo, Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, selama dua hari berturut - turut.
 
Pada hari pertama sabtu sore beberapa penampil baik dari seniman dari Jawa Timur maupun dari luar Jawa Timur menyuguhkan tari khas masing-masing daerah.
 
Seperti Tari Singo Ulung dari Bondowoso, musik sape dari Kalimantan Timur, Reog Ponorogo, jaranan Tengger hingga reog dari Sanggar Seni Malang.
 
Sempat terjadi ketegangan saat beberapa penari reog kesurupan hingga harus digotong ke luar kaldera. Di dalam tenda, dua penari perempuan ini terus berteriak hingga membuat petugas dan kru kewalahan.
 
Meski sempat terjadi insiden kesurupan kepada beberapa penari, namun jalannya festival Eksotika Bromo tetap digelar.
 
Penampilan pamungkas adalah Tari Topeng Tengger dan pembacaan puisi berjudul Kidung Tengger oleh seniman Sosiawan Leak. Puisi ini bercerita awal muasal Suku Tengger, hingga akhirnya ada hari pengerobanan ke kawah Gunung Bromo atau yang biasa disebut Yadnya Kasada.
 
Menurut Pritta Kartika salah satu penampil, dia ketiga kalinya tampil di acara ini. Lagi-lagi butuh fisik ekstra untuk tampil di atas ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut.
 
Sementara itu, menurut Mahdi, salah satu penonton, acara semacam ini sangat baik terus digelar secara berkala dan dia berharap makin banyak kesenian lokal dipertunjukkan di even ini.
 
Tarian kolosal bercerita tentang anak ke-25 dari Roro Anteng dan Joko Seger yang bernama Raden Kusuma yang harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo sesuai dengan janji mereka menjadi penutup acara hari pertama.
 
Hingga saat ini, warga Suku Tengger setiap tahun di bulan kasada atau kesepuluh kalender Tengger harus menggelar Yadnya Kasada atau melarung sesaji berupa hasi bumi ke Kawah Bromo.
 
Seni tari yang berpadu dengan keindahan alam Bromo, memberikan sensasi tersendiri, bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, festival tari ini dapat melestarikan warisan leluhur perihal kekayaan budaya.(end)


Berita Terkait

Peristiwa
Sempat Naik, Aktivitas Gunung Bromo Kembali Turun
20-07-2019 | 13:01 wib

Peristiwa
Musim Kemarau, Badai Pasir Landa Kaldera Gunung Bromo
20-07-2019 | 11:06 wib

Metropolis
Aktivitas Gunung Bromo Meningkat, Gempa Tremor Hingga Hujan ...selanjutnya
19-07-2019 | 21:01 wib

Mlaku - Mlaku
Eksotika Bromo di Lautan Pasir Gunung Bromo Pukau Wisatawan
14-07-2019 | 11:57 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062