Citizen Journalism
Begini Isi Surat Terbuka Kepada Tim Ahli Cagar Budaya Terkait Benteng Kedung Cowek
Selasa, 03-09-2019 | 13:53 wib
Reporter :
Foto Istimewa
Surabaya pojokpitu.com   Seorang Alumni Teknik Sipil ITS, Periset dan Penulis Buku Ady Setyawan menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Tim Ahli Cagar Budaya. Isinya, Ady Setyawansangat menyayangkan cara metode yang diambil TACB dengan melakukan drill pengeboran pada dinding-dinding benteng. Meskipun alasan mengambil sampel beton untuk diuji kadar karbon guna mengetahui usia bangunan.
Ady Setyawan juga menanyakan alasan TACB tidak menggunakan analisa sejarah dari sisi arsitektur benteng. Berikut surat terbuka TACB yang tembusan kepada Kadisbudpar Kota Surabaya, Humas Pemerintah Kota Surabaya, Kadispursip Kota Surabaya serta Pangdam V Brawijaya.

 
Assalamualaikum wr wb

Pertama kami ucapkan terimakasih atas adanya kemajuan dimana Tim Ahli Cagar Budaya ( selanjutnya akan kami tuliskan TACB untuk mempersingkat ) yang mulai bergerak menganalisa kelayakan Benteng Kedung Cowek menjadi bangunan cagar budaya kota Surabaya.

Tetapi kami sangat menyayangkan cara / metode yang diambil TACB dengan melakukan drill / pengeboran pada dinding-dinding benteng dengan alasan mengambil sampel beton untuk diuji kadar karbon guna mengetahui usia bangunan. Disertai alasan Ketua TACB yang mengatakan : "apalagi sampai sekarang belum ada data pasti kapan benteng ini didirikan" ( Jawa Pos , 31 Agustus 2019).

Disisi lain kami telah memaparkan segala arsip terkait pembangunan benteng ini. Mulai cetak biru bangunan, arsip koran sejaman , arsip laporan militer Jepang, hingga literatur-literatur yang ditulis oleh para pelaku sejarah secara langsung maupun tidak langsung.

1. Jika TACB ragu terhadap keabsahan cetak biru yang kami bawa sebagaimana yang disampaikan Prof . Dr. Ir Johan Silas, hal itu mudah dengan cara melihat dan mencocokkan langsung gambar pada cetak biru dengan kondisi eksisting dilapangan, mengapa studi itu tidak dilakukan?

2. Terkait analisa usia bangunan, Cetak biru benteng Kedung Cowek memang harus didapatkan dengan mencari secara manual di Arsip Nasional Belanda dan itu sudah kami lakukan, tetapi menggali arsip surat kabar cukup dilakukan dengan "smart phone" dalam genggaman. Mengapa TACB tidak melakukan triangulasi data antara cetak biru yang sudah kami berikan dengan arsip-arsip surat kabar yang sejaman untuk mendapat keakuratan ?

3. Ketua TACB Dr Ir R.A Retno Hastijanti , MT dan anggota TACB yang paling senior Prof. Dr. Ir Johan Silas berasal dari bidang keilmuan arsitektur ITS. Mengapa tidak menggunakan  analisa sejarah dari sisi arsitektur benteng ? bukankah setiap jaman menyisakan desain yang khas sebagai penanda?

4.  Masih terkait awal pembangunan situs benteng. Kami menduga bahwa benteng ini dibangun oleh Belanda dengan dasar dugaan : cetak biru, arsip-arsip koran sejaman dan buku literatur belanda berjudul Mars het Historia. Jika Prof. Dr. Ir Johan Silas dan TACB menduga bahwa benteng ini dibangun Jepang, sumber apa yang dijadikan pertimbangan dan bagaimana TACB memandang arsip militer Jepang berjudul Monograph 68 yang disusun oleh Letkol Tadaka Numaguchi dan Mayor Katsuji Akiyama ?

5. Setidaknya tujuh buku menuliskan peristiwa tersebut dan satu arsip Inggris yang mencatat sitrep ( situation report ) ketika benteng tersebut berhasil mereka kuasai pada akhir November 45. Sekalipun benteng ini dalam keadaan ditinggalkan dan ala kadarnya, ada satu tradisi yang masih dijalankan oleh Batalion Artileri Pertahanan Udara. Yaitu membawa anggota barunya ke benteng sebagai salah satu prosesi sakral masuknya anggota baru. Tradisi ini bukanlah tradisi asal-asalan tanpa sebab latar belakang yang jelas. Mereka mengenang para pendahulu mereka para artileris yang gugur membela negeri. Nama batalion Sriwijaya yang nyaris musnah diabadikan sebagai nama komplek Pussen Artileri Pertahanan Udara di Cimahi, Jawa Barat. Masihkah Prof. Dr.Ir Johan Silas dan TACB meragukan peranan situs dalam pertempuran Surabaya? Masihkan meragukan semua sumber literatur sejarah yang dituliskan oleh para pelaku baik secara langsung maupun tidak langsung?

6. Dari seluruh cagar budaya yang ada di kota Surabaya, berapa persen yang harus melalui tes pengambilan sampel seperti situs benteng? adakah prosedur yang mengatur tentang pengambilan sampel dengan metode ini terhadap situs bersejarah sedangkan sumber-sumber literatur tersedia?

Segala upaya kami memang bertujuan agar benteng ini mendapat perlindungan hukum sebagai bangunan cagar budaya, tetapi diluar itu kami sangat berharap agar narasi yang nantinya sampai pada masyarakat adalah narasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu kami berharap ada pertemuan dan diskusi terbuka dan terdokumentasikan antara TACB dengan para profesional dan aktivis sejarah, mari berdialog dengan sumber dan data-data yang dimiliki masing-masing pihak. Bukan untuk saling menjatuhkan. Tapi untuk keilmuan dan sejarah kota kita tercinta.


Hormat Kami

Ady Setyawan, ST
Alumni Teknik Sipil ITS


Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062