Opini
Benteng Kedung Cowek: Antara Belanda Dan Jepang?
Kamis, 12-09-2019 | 12:01 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com  Membaca surat kabar Jawa Pos edisi Selasa, 10 September 2019 dengan judul "Permasalahan Pengeboran BKC" membuat saya tergelitik dan sekaligus terperangah. Isinya tidak hanya bermuatan perdebatan dan upaya adu literasi histori untuk mempertahankan argumentasi masing-masing pihak, tetapi muncul pula pernyataan yang harus dicermati agar tidak salah arah.
Pihak-pihak yang dimaksud di atas adalah antara Si Tua dan Si Muda (The Old and The Yound) atau Si Senior dan Si Yunior (The Senior and The Junior), yang keduanya sama-sama beralmamater ITS. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Johan Silaas dan Ady Setyawan. Prof. Johan Silaas adalah anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya. Sedangkan Ady Setyawan adalah Peneliti Benteng Kedung Cowek, yang dari penelitiannya telah terbit buku "Benteng Benteng Surabaya" (2015).

Mencermati isi berita Jawa Pos sebagaimana tersebut di atas, sesungguhnya mereka berdua adalah orang-orang yang peduli dengan sejarah kota, khususnya sejarah benteng Kedung Cowek. Masing-masing memiliki cara untuk memperkuat dugaan mengenai kapan pembangunan benteng, yang saat ini masih dalam proses penetapan status cagar budaya.

Belum lama Walikota Surabaya Tri Rismaharini bertemu dengan Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI R. Wisnoe Prasetja Boedi untuk menindaklanjuti hasil pertemuan Komunitas Pegiat Sejarah dengan Pangdam V/Brawijaya, yang intinya status lahan dan bangunan benteng Kedung Cowek adalah dalam penguasaan TNI AD Kodam V/Brawijaya. Dalam pertemuan dengan Komunitas Pegiat Sejarah Surabaya, Pangdam V/Brawijaya menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik niat pemerintah Kota Surabaya yang mau memproses kembali penetapan status cagar budaya atas benteng Kedung Cowek.

Salah satu syarat dari penetapan cagar budaya, menurut TACB Kota Surabaya, adalah kajian sejarah. Hasil kajian sejarah ini nantinya dapat digunakan sebagai kelengkapan literasi yang bisa diakses oleh publik sebagai wahana edukasi, penelitian dan ilmu pengetahuan. Nah, justru di tahap kajian sejarah inilah terjadi pro dan kontra mengenai kapan dibangunnya benteng tersebut. Menimbang usia bangunan benteng yang sudah lebih dari 50 tahun, maka sesungguhnya benteng Kedung Cowek sudah masuk dalam salah satu kriteria bangunan cagar budaya sesuai dengan undang-undang.

Sementara itu, Komunitas Pegiat Sejarah, yang dimotori oleh Ady Setyawan sebagai pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia, berpendapat bahwa data literasi miliknya yang berupa clipping beberapa surat kabar terbitan Belanda, yang salah satunya "de Locomotive", memuat berita-berita tentang rencana pembangunan benteng di akhir abad 19 hingga awal abad 20 serta cetak biru (blue print) kiranya sudah cukup sebagai sumber sejarah. Belum lagi buku-buku lain yang memuat sejarah Kedung Cowek.

Sementara itu, TACB melalui Prof. Dr. Ir. Johan Silaas menduga bahwa benteng Kedung Cowek dibangun oleh Jepang, yang usianya tentu lebih muda dari dugaan Ady Setyawan. Jika dibangun Jepang, maka bangunan benteng ini diperkirakan dibangun pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945. Untuk memperkuat dugaannya, TACB berinisiatif melakukan pengeboran pada dinding-dinding benteng. Prof. Johan Silaas mengatakan bahwa pengeboran itu dilakukan untuk menentukan usia bangunan (Jawa Pos, 10/9). Pemerintah Kota Surabaya meminta bantuan Tim ITS, Prof. Silaas menambahkan.

Namun, menurut Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Andy Muhammad Said, ketika ditemui di lokasi benteng (9/9) bahwa pengeboran beton untuk menentukan usia adalah kurang tepat karena pada obyek beton tidak ada unsur serbuk karbon untuk dilakukan uji karbon sebagaimana umumnya. Andy menambahkan bahwa uji beton hanya untuk mengetahui struktur bangunan. Kecuali ada teknik baru untuk mengetahui usia beton.

Keterangan waktu dalam sejarah adalah penting. Karenanya, penentuan kapan benteng Kedung Cowek dibangun tidak boleh gegabah. Studinya harus cermat dan tepat, termasuk studi literasi. Jika harus ada penelitian lapangan, memang akan sangat mendukung. Tetapi prosedurnya harus benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Apapun hasil penelitian lapangan harus diekspose ke publik.

Secara fisik, kontruksi benteng Kedung Cowek terdiri dari beton bertulang. Fakta ini yang kiranya menjadi pertimbangan Prof. Dr. Ir. Johan Silaas sehingga Ia menduga bahwa benteng Kedung Cowek tidak dibangun pada tahun 1900-an, melainkan sesudahnya. Yakni di masa pendudukan Jepang karena teknik kontruksi beton masuk Surabaya baru tahun 1930-an (Jawa Pos, 10/9). Karena benteng Kedung Cowek sudah berkontruksi beton, maka diduga benteng tidak dibangun pada awal 1900-an, melainkan pada masa setelah tahun 1930-an. Begitu lah dugaan Prof. Silaas, yang selama ini dikenal sebagai ahli tata kota.

Pernyataan Prof. Dr. Ir. Johan Silaas tentang teknik kontruksi beton masuk Surabaya pada tahun 1930-an (Jawa Pos, 10/9) juga menarik ditelaah karena banyak bangunan-bangunan Belanda di Surabaya, yang dibangun pada awal 1900-an, justru sudah menggunakan kontruksi beton.

Salah satunya adalah bekas gedung NILLMIJ yang terkenal dengan gedung singa karya Berlage. Gedung kontruksi beton, yang berdiri di jalan Jembatan merah (Willemskade) ini, dibangun tahun 1901. Gedung berotot beton lainnya di jalan Jembatan Merah adalah bekas Nuspaarkbank (gedung BII). Gedung eks Hotel Oranje (Majapahit), yang dibangun tahun 1910, juga berkontruksi beton. Apalagi jasa kontruksi beson sudah ada di Surabaya di awal abad 20, termasuk toko semen untuk kontruksi beton sudah ada di Gubeng pada tahun 1900.

Surabaya sudah lama dikenal sebagai kota besar. Kehadiran bangsa Eropa ke Surabaya di abad 17 juga karena dinamika ekonomi dan perdagangan yang ada di kota ini. Industrialisasi pun menghiasi kota, termasuk pabrik besi. Apalagi di bidang pertahanan. Tidak hanya memproduksi altileri, perbentengan yang lebih kuat pun mulai dibangun di Surabaya pada 1830-an. Semua sudah menggunakan unsur besi temasuk beton untuk kontruksi bangunan. Bahkan perumahan dan bangunan, yang dulunya merupakan kompleks militer di Krembangan, dibangun dengan kontruksi besi beton. Bungker-bungker yang masih ada di bekas permukiman militer Krembangan adalah bukti kontruksi bertulang besi. Perumahan itu sudah ada sejak pertengahan abad 19. Lainnya dari pertengahan abad 19 adalah gedung Polrestabes Surabaya yang dulunya adalah barak militer (1840-an).

Nah, kembali ke benteng Kedung Cowek. Jika benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1900-an dan sudah berkontruksi beton, maka tidaklah heran. Laksamana Van den Bosch pun pernah tinggal di Surabaya. Di masanya Ia meneruskan sistem pertahanan kota, yang diawali oleh Daendels. Tugas Van den Bosch adalah melakukan penguatan sistim pertahanan. Bahkan di Ngawi, Ia membangun benteng yang dinamakan Benteng Van den Bosch. Benteng ini juga sudah berkontruksi besi beton. Dibangun pada 1839. Apalagi benteng Kedung Cowek, yang menurut cetak biru dibangun pada 1900-an. Maka, tak heran jika di sana terdapat kontruksi besi beton sebagai penguatan sistim pertahanan secara fisik.  (yos)


Berita Terkait

Metropolis
Benteng Kedung Cowek Dibangun Selama 7 Tahun (1900 - 1907)
15-09-2019 | 00:05 wib

Opini
Benteng Kedung Cowek: Antara Belanda Dan Jepang?
12-09-2019 | 12:01 wib

Opini
Heroisme di Benteng Kedung Cowek
27-07-2019 | 16:44 wib

Metropolis
Perjelas Status Benteng Kedung Cowek, Pangdam Terima Audensi...selanjutnya
03-07-2019 | 19:15 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062