5 Pasien Positif Corona Di Bojonegoro Dinyatakan Sembuh
Mantan Kadinkes Kabupaten Malang Dibebaskan Menjadi Tahanan Kota
Sebelum Gantung Diri, Diduga Suami Terlebih Dahulu Bunuh Istrinya
DPO Begal Truk Muatan Kerbau Ditangkap Tim Jatanras
Tanggapan DPRD Terkait Sekolah Masuk di Tengah Pandemi
Belasan Tahun Nabung Pedagang Perabotan Sedih Gagal Berangkat Haji Tahun Ini
Rencana New Normal, Ratusan Warga Masih Berdesakan di Pasar Tradisional
Muncul Transmisi Lokal, Pasar Peterongan Ditutup
Positif Covid 19, Warga Peneleh Dikarantina
Pemkab Minta Bumdes Selaku Penyedia Beras Agar Selalu Jaga Mutu
Penjual Beli Motor Tewas Dibondet Saat Tidur Bersama Anak dan Isrtinya
Mangkir Jaga Check Poin, PNS Nyabu Ditangkap
Setan Sembunyi
Pasangan Suami Istri Tewas di Rumah Saudaranya
Tukang Sablon Pakai Ganja Selama Empat Tahun Jalani Persidangan Online



Teknologi
Limbah Ternak Sapi Bisa Diproses Menjadi Pupuk Organik
Kamis, 10-10-2019 | 01:06 wib
Reporter : Andy Nurcholis
Rumah pemotongan hewan Kabupaten Situbondo , memanfaatkan limbah ternak sapi menjadi pupuk organik berkualitas. Foto Andy Nurcholis
Situbondo pojokpitu.com  Limbah yang selama ini dianggap mencemari lingkungan, ternyata bisa disulap menjadi pundi pundi rupiah. Caranya sangat mudah, limbah kotoran sapi diolah menggunakan sebuah alat pengelolah pupuk organik.
Proses pembuatan pupuk organik dari bahan limbah rumah potong hewan dilakukan di Desa Sumber Kolak Kecamatan Panarukan . Alat pengelolah pupuk organik milik Dinas Peternakandan Kesehatan Hewan itu bisa mengubah limbah menjadi pupuk organik.

Sebelum diolah menjadi pupuk organik, limbah dari kotoran hewan ternak dan limbah pemotongan hewan harus dikeringkan dahulu. Kemudian bahan pupuk organik dari ruang instalasi pengelolah air limbah atau Ipal menjadi lebih optimal.

Disnakkeswan dapat memproduksi pupuk organik rata rata satu ton setiap harinya. Al hasil pupuk organik, dapat menyuburkan lahan pertanian , dengan harga yang ekonomis.

Hasanuddin Riwansia , Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan, selama ini  biaya produksi tinggi lantaran petani cenderung menggunakan pupuk kimia yang justru merusak unsur tanah. Padahal cara mengatasi masalah tersebut dengan hanya menggunakan pupuk organik.

Untak saat ini limbah pupuk organik dijual dengan harga dua ribu rupiah per kilo, dan dipasarkan ke pencinta tanaman hias. Dinas Peternakan dan Kesehatan, masih kuwalahan jika memasarkan ke petani kebun. Sebab permintaan yang terlalu banyak untuk  memproduksi pupuk organik dalam jumlah besar. (pul)


Berita Terkait



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062