Lebaran Dilapas, Para Napi Gunakan Fasilitas Video Call
Kolonel Yuri Beri Peringatan, Jangan Kembali ke Jakarta
Salama Lebaran, Pelanggar PSBB Meningkat
Polisi Perketat Akses Masuk Perumahan Surabaya
Pengedar Sabu Jaringan Lapas Dibekuk Polisi
Balon Udara Ditemukan Jatuh di Atas Rumah Warga Magetan
PSBB Surabaya Raya Diperpanjang Kembali Sampai 9 Juni 2020
Pakar Komunikasi Unair Menilai PSBB Kurang Efektif
Akhir PSBB Tahap Dua, Jumlah Pelanggaran Masih Tinggi
Kabar Gembira, 17 Dari 77 Pasien Corona di Kabupaten Probolinggo Sembuh
Ibu Ini Ngamuk Ngamuk Jalannya Diportal, Begini Ceritanya
Data Terbaru Kasus Covid 19 Masih Ada Tambahan 479 Orang
Wisatawan Dipinggir Jalan Pacet Cangar Dibubarkan Petugas
Tidak Pernah Putus Asa, 17 Tahun Kiai Ini Berdakwah Tanpa Jamaah
Selama Lebaran Terminal Bayuangga Lumpuh



Tempo Doeloe
Ritual Siraman Waranggono, Bentuk Pelestarian Budaya Langen Tayub
Kamis, 07-11-2019 | 21:15 wib
Reporter : Khusni Mubarok
Tuban pojokpitu.com  Para pecinta seni langen tayub di Tuban, Jawa Timur, menggelar ritual siraman waranggono di Kolam Pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban. Tradisi ini digelar sebagai bentuk pelestarian budaya tayub agar tidak hilang di jaman modern seperti saat ini.
Wisuda penari langen tayub kali ini diikuti sebanyak lima belas gadis cantik. Mereka resmi dinobatkan sebagai penari langen tayub atau biasa disebut waranggono. Selanjutnya mereka berhak mengisi pagelaran seni tradisional secara terbuka di tengah kehidupan masyarakat.

Setelah diwisuda, 15 penari baru ini bergabung dengan seniman langen tayub lainnya. Mereka diarak dari Alun-Alun Tuban menyusuri jalan desa menuju sendang widodaren, di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban, untuk melakukan ritual siraman.

Diawali dengan tabur bunga, seluruh seniman baik penari maupun pengrawit, ikut masuk sendang. Mereka bergantian membasuh muka, tangan dan kaki, menggunakan air sumur keramat yang berada tepat di pinggir sendang.

Dita Aulia, waranggono peserta ritual, menjelaskan, ritual ini merupakan sarana untuk mensucikan diri, hal ini dilakukan untuk melestarikan tradisi dan budaya. "Diharapkan kedepan, seniman tradisional sukses dan mendapat banyak tawaran pentas," kata Dita.

Noor Nahar Hussein, Wakil Bupati Tuban, menjelaskan, siraman waranggono ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahunnya. 
"Selain sudah menjadi tradisi, juga untuk menjaga  dan melestarikan agar seni tayub terus ada dan dikenal masyarakat luas. Siraman ini diikuti sebanyak 82 penari langen tayub, 68 pramugari atau pembawa acara jawa, 48 pengrawit," kata Noor Nahar Hussein.

Di era modern ini, seni tayub kian sedikit peminatnya. Oleh karenanya, para pecinta tayub ini sekuat tenaga akan terus melestarikan dan mengenalkan kepara generasi muda, agar seni tayun yang merupakan warisan nenel moyang ini tidak hilang begitu saja. (yos)


Berita Terkait

Peristiwa
Ritual Siraman Waranggono, Bentuk Pelestarian Budaya Langen ...selanjutnya
02-11-2018 | 00:15 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062