Mlaku - Mlaku
Menang Lomba Terbersih se Dunia, Inilah 6 Istimewanya Desa Panglipuran
Jum'at, 31-01-2020 | 14:44 wib
Reporter : Pulung Aji
Desa adat Panglipuran Kabupaten Bangli Bali. Foto Pulung Aji
Bangli pojokpitu.com   Globaliasasi telah membuat kejadian wabah virus Corona di negara China mempengaruhi kegiatan pariwisata di Bali. Namun khusus di desa Panglipuran Kabupaten Bangli, ternyata wabah virus Corona beklum ada dampaknya. Wisatawan local maupun manca negara masih lalu lalang berkunjung di desa yang berada di lereng Gunung Batur tersebut.

Ada banyak alasan para wisatawan memilih desa adat Panglipuran menjadi destinasi. Bahkan desa Panglipuran masuk dalam daftar daftar Unesco sebagai kawasan adat yang harus dilindungi. Disitu tetap ramai, per hari masih dikunjungi 800 orang. Bahkan jika hari libur bisa sampai 4 ribu pengunjung keluar masuk desa adat Panglipuran.

Menurut Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Muneng, banyak turis asing maupun lokal memilih berkunjung hingga menginap di desa karena banyak alasan. Bagi warga asing, suasana yang sunyi jauh dari hinggar bingar kendaraan  serta asap kemacetan menjadi pilihan untuk menenangkan pikiran di desa Panglipuran. "Pengunjung umumnya punya kesan, bahwa disini bisa menghirup oksigen murni. Karena tidak ada lalu lalang kendaraan, udara yang bersih serta berada di lereng gunung," kata I Nengah Muneng.

Pintu masuh desa adat Panglipuran. Tidak ada lalu lalang kendaraan dan asap pembakaran sampah. Foto PulungPintu Masuk desa adat Panglipuran. Tidak ada kendaraan yang boleh melintas, termasuk tidak boleh ada pembakaran sampah. Foto Pulung Aji


Berikut adalah hal unik yang didapat dari desa Penglipuran Bangli Bali, yang nyaris tidak ada di daerah lain

1.Banyak Warga Berumur Tua Masih Sehat

Desa Wisata Adat Panglipuran adalah desa yang memiliki ciri khas tersendiri. Lokasi masih asri serta terjaga dengan keelokan rumah adat yang masih harus ada dan wajib dilestarikan oleh warga yang menempati. Desa yang memiliki penduduk sekitar 1.038 jiwa atau ada 230 kepala keluarga itu, hampir 100 orang diantara berusia lanjut. Angka harapan hidup di desa Panglipuran sangat tinggi disebabkan banyak faktor.

Mulai udara yang sangat bersih tanpa asap, serta pola konsumsi warga berasal dari hasil alam setempat. Untuk usia prosuktif, warga desa panglipuran memiliki berbagai macam provesi. Mulai dari petani, ASN hingga pegawai di sektor  pariwisata Bali. Bahkan tidak sedikit warganya merantau keluar desa.


2.Masih Mempertahankan Arsitektur Adat

Sebagai desa yang berwawasan lingkungan, Penglipuran memiliki hutan bambu seluas 45 hektar. Kesepakatan bersama, kearifan tradisonal dalam mengelola hutan yaitu tidak boleh dialih fungsikan maupun dijual kepada pihak luar demi menjaga segi ekologi, ekonomi, historis, religi dan heroik. Maka hutan bambu tersebut mendukung alam sekitar Penglipuran makin asri sesuai Sapta Pesona.
 
Menurut I Nengah Muneng, kelebihan desa Palipuran mampu melestarikan dan mengonservasi budaya. Contoh budaya yang dimiliki arsitektur, tata ruang dan layout berdasarkan Filosofi Tri Mandala. Jumlah pekarangan atau rumah di Panglipuran sendiri ada 77. Guna mengkonservasi budaya itu, desa Panglipuran memiliki landasan lay out tata ruang desa melalui Filosofi Tri Mandala atau tiga zona yaitu menjaga Zona Parahiyangan atau tempat yang disucikan, Zona Pawongan dan Zona Palemahan.

Di pekarangan ada empat pintu. Bagian depan sebagai akses ke desa adat, kanan kiri akses ke tetangga, dan pintu belakang akses menuju jalan melingkar sebagai jalan kendaraan.

Selain itu, setiap pekarangan wajib memiliki tiga bangunan tradisi yaitu angkul-angkul atau gerbang, balai tradisional dan balai sakenem sebagai tempat upacara. Rata-rata semua masih menggunakan bahan dari bambu sebagai atap, batu padas dan kayu. "Setiap kali ada perbaikan atau rehab rumah karena kerusakan, akan mendapat dana subsidi dari desa adat senilai Rp 5 juta," kata I Nengah Muneng.

Serta juga memiliki tiga kuburan di dekat dengan kawasan desa. Pertama, makam bagi yang meninggal karena kecelakaan, bunuh diri maupun sakit keras. Kedua, makam bagi mereka yang meninggal dengan rentang usia dari baru lahir sampai sebelum nikah. Ketiga, penguburan umum. Letaknya di ujung jalan desa atau sekitar satu kilometer dari pemukiman warga.

3.Masih Mempertahankan Budaya Gotong Royong

Di desa Panglipuran masih mempertahankan budaya gotong royong dalam menyambut kegiatan masyarakat. Jika terdapat salah satu warga yang punya hajat tertentu, maka semua warga desa terlibat untuk membantu. Seperti saat selamatan sebelum mengebor sumur baru. Selamatan bertujuan sebagai ungkapan puji syukur kepada Dewa dalam rangka pengadaan air bersih. Ritual Melaspas atau penyucian kerap dilakukan saat momen tertentu. Sedangkan anggaran upacara berasal dari desa dan iuran warga.

Saat upacara adat, memotong daging syarat yang disertakan. Sebelum dikonsumsi, babi tersebut diolah bersama secara gotong royong. Termasuk membagi dalam potongan kecil bersama setangkup nasi di atas daun.  Nasi tersebut dibagikan setelah upacara persembahan kepada perwakilan warga yang hadir membantu.

Apapun kegiatan adat di desa tersebut selau menarik wisatawan. Mungkin dianggap tidak pernah ada di tempat asalnya, para wisatawan tidak jarang terlibat dalam upacara itu. Wisatawan bebas keluar masuk kawasan pemukiman, hingga ke rumah-rumah warga. Ditanya tentang masalah privasi warga setempat dengan perilaku wisatawan yang hilir mudik tersebut, I Nengah  Muneng mengatakan selalu ada toleransi dari warganya. Pengorbanan warga yang diberikan jangan sampai menganggu secara prinsip. "Warga kami welcome dengan wisatawan, sepanjang datang tidak ganggu kenyamanan," kata Muneng.

Wisatawan bebas keluar masuk kawasan pemukiman, hingga ke rumah-rumah warga. Foto Pulung Aji


4.Larangan Kesar Untuk Berpoligami

Sebagian masyarakat nusantara menganggap pria lebih dari 1 istri adalah lumrah dalam pranata sosial. Dukungan adat juga memberi kesempatan bagi pria untuk menikah lebih dari sekali. Bahkan tidak jarang, istri-istri tersebut tinggal dalam 1 rumah atau satu kawasan.

Namun prinsip berpoligami atau berpoliandri itu dilarang keras di desa adat Panglipuran. Terdapat hukum adat yang menentukan, bahwa Jika sampai ada warga yang ketahuan berpoligami, berzina, atau berselingkuh dengan sesama warga desa, maka harus siap mendapatkan hukuman adat. Berupa pengasingan di Sarang Memandu.

Hukuman paling berat bagi yang melanggar, hak dan kewajibannya sebagai warga Desa Adat Penglipuran juga akan dicabut. Setelah orang tersebut pindah, maka akan dibuatkan rumah oleh warga desa tetapi mereka tidak akan boleh melewati jalanan umum ataupun memasuki Pura dan mengikuti kegiatan adat.

Prinsip berpoligami atau berpoliandri itu dilarang keras di desa adat Panglipuran. Foto Pulung Aji


Menurut I Nengah  Muneng, desa adat panglipuran memiliki visi berbasis masyarakat. Warganya sepakat terus menjaga keunikan budaya dan kebersihan lingkungan, maupun bersih masalah sosial. Dari kesepakatan bersama yang terus dijaga itu, masyarakat juga merasakan manfaatnya.

5.Dikenal Tempat Peristirahatan Para Raja

Penduduk Desa Penglipuran berasal dari Bayung Gede Kintamani. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari Bangli. Pada masa tersebut, Kerajaan Bangli pernah mengalami krisis kependudukan karena wabah. Banyak penduduk Bangli memilih pindah ke kota kerajaan.  Sehingga raja mengambil penduduk Bayung Gede dengan kesepakatan dari penguasa setempat. Bahkan mereka juga diajak berperang karena memiliki kemampuan fisik lebih.

Agar tidak kehilangan sejarah serta demi menjaga tanah leluhur, warga sepakat membangun desa adat. Syaratnya, harus memiliki pura. Masyarakat membuat pura seperti di tanah leluhur dan beberapa adat tetap dijaga.

Menurut Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Muneng, seiring perkembangan waktu, desa Penglipuran memiliki hak otonom dalam melaksanakan adat istiadat sesuai Perda Bali Nomor 4 Tahun 2019, serta saat ini sedang menunggu Pergub untuk mengelola desa adat sebagai badan usaha milik desa.

"Untuk berkunjung ke desa adat Panglipuran, harga tiket berdasarkan Perbup Nomor 47 Tahun 2014 bagi wisatawan domestik dewasa Rp 15.000 dan anak-anak Rp 10.000. Tiket bagi wisatawan mancanegara dewasa Rp 30.000 dan anak-anak Rp 25.000." kata I Nengah Muneng.

Tiket dikelola langsung oleh pemerintah kabupaten. Nilainya, 40 persen diserahkan kepada desa dan 40 persen kepada pemerintah. Dana desa terbagi lagi, 20 persen digunakan sebagai dana operasional dan 20 persen untuk kas desa. Sedangkan home stay dipotong 20 persen untuk Desa Adat Penglipuran.  "Jika jumlah kunjungan rata-rata per hari 800 dan mencapai 4000 wisatawan saat hari libur, maka rata rata pendapatan desa adat Panglipuran sekitar Rp 4 miliar lebih tiap tahun," tambah Muneng.

6.Desa Penuh Prestasi, Pantas Dijadikan Contoh

Desa adat Panglipuran tidak hanya unik, namun juga sarat prestasi. Untuk itulah Humas dan Protokol Pemprov Jatim Senin, (27/01) mengajak wartawan Pokja Prov Jatim melakukan studi banding dan ingin mengetahui secara langsung profil desa adat Penglipuran. Harapannya bisa dijadikan referensi ke Pemrov Jatim, dan dikembangkan di sejumlah wilayahnya.


Desa adat Panglipuran juga sarat atas prestasi. Berjejer penghargaan serta penopatan telah diterima sejak dikelola menjadi desa adat. Mulai Desa Penglipuran dinobatkan sebagai desa terbersih ketiga di dunia. "Keunikan harus dipertahankan, dan bisa menjadi lebih baik lagi," tambah Muneng.

Prestasi pertamakali didapat Desa Penglipuran yaitu memperoleh penghargaan Kalpataru (1995), Desa terbersih nomor tiga dunia versi Majalah International Boombastic (2016), Indonesia Substainable Tourism Award (2017) dan terakhir Substainable Destinations Top 100 versi Green Destination Foundation.

Prestasi semua ini karena masyarakat desa gigih menjaga dan mempertahankan adat sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. (pul)



Berita Terkait

Rehat
Lestarikan Adat Lokal Dengan Gelar Festival Angklung Paglak
06-08-2018 | 13:34 wib

Peristiwa
Gagal Diakui Jadi Desa Adat, Warga Wadul ke Pemkab dan DPRD ...selanjutnya
01-08-2018 | 16:25 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062