Profesor Dari Unmuh Gresik Temukan Varietas Tebu Unggul
Tabrak Jembatan, Suzuki Ertiga Nyaris Terjun Dari Flyover Gubeng
Begini Cerita Janda 2 Anak Yang Tinggal di Bekas Kandang Ayam
Laka Lantas Operasi Patuh Semeru Meningkat
Jatim Belum Layak Lakukan Sekolah Tatap Muka
Pertumbuhan Ekonomi Minus, Kemenhub Beri Konsesi Terminal Logistik
Akademisi Arsitektur : Warna Biru Alun-Alun Magetan Bagian Dari Simbol Kekuasaan
Pasangan OK Segera Deklarasi Parpol Pengusung
Unik, UWK Malang Gelar Wisuda Secara Drive Thrue
Meski Harga Gabah Naik, Petani Tak Jual Semua Hasil Panennya
Mendagri Bilang Ada Kepala Daerah Yang Tidak Serius Tangani Covid-19



Mataraman
Cegah Serangan Tikus, Petani Pagari Sawah dengan Galvalum
Jum'at, 31-01-2020 | 20:10 wib
Reporter : Herpin Pranoto
Pusing serangan hama tikus, petani di Kabupaten Ngawi, memagari tanaman padi di sawahnya dengan galvalum atau baja ringan. Meskipun mahal, tetapi terbukti efektif mencegah serangan tikus. Foto: Herpin Pranoto
Ngawi pojokpitu.com  Selama 2 musim tanam terakhir, serangan hama tikus telah membuat rugi banyak petani di Desa Banjaransari Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi.
Berbagai upaya untuk mengendalikan hama tikus, dinilai telah gagal. Setelah berpikir keras, Suwarno (50), salah satu petani desa setempat, melakukan ujicoba dengan memagari sawahnya menggunakan galvalum atau baja ringan, setinggi 75 centimeter.Bahan untuk atap rumah itu, digunakan untuk mengelilingi tanaman padinya. Untuk membatasi serangan ribuan tikus, sekelilingnya dibuatkan saluran air. Pagar tersebut, terbukti efektif, untuk melawan serangan tikus.

"Hingga 70 hari setelah tanam, hanya sedikit tikus yang bisa masuk ke areal pertanaman padinya. Pagar tersebut, cukup mahal, tetapi bisa digunakan hingga puluhan tahun. Untuk lahan seluas 2,3 hektar, membutuhkan dana sekitar Rp 10 juta," kata Suwarno.

Sementara itu pagar milik Ibnu Hidayat (39), petani setempat, menggunakan galvalum setinggi 90 centi meter. Kondisi itu, membuat biayanya lebih mahal. Untuk lahan seluas setengah hektar saja,dibutuhkan pagar sepanjang 300 meter, dengan biaya sekitar Rp 10 juta. "Dengan menambah ketinggian pagar, nyaris tak ada tikus, yang berhasil masuk ke areal pertanaman padinya," kata Ibnu Hidayat.

Kreativitas 2 petani tersebut, perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Jika lebih efektif, bisa dijadikan alternatif, mengatasi hama tikus di masa mendatang.Sehingga petani tidak menggunakan jebakan tikus listrik, yang berbahaya.

Bagi pemerintah setempat, bisa mendorong penggunaannya, dengan memberikan subsidi kepada kelompok tani. Sebagai lumbung panen beras nasional, membantu petani berarti ikut menjaga ketahanan pangan nasional. (pul)


Berita Terkait

Metropolis
Antisipasi Serangan Hama Tikus Petani Nekat Pasang Setrum Li...selanjutnya
16-02-2020 | 03:10 wib

Peristiwa
Basmi Hama Tikus, Petani Ngawi Gunakan Burung Hantu
08-02-2020 | 08:12 wib

Peristiwa
Cegah Serangan Tikus, Petani Pagari Sawah dengan Galvalum
31-01-2020 | 20:10 wib

Hukum
Bikin Jebakan Tikus Listrik Yang Tewaskan Tetangga, Yusuf Ja...selanjutnya
31-01-2020 | 07:01 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062