Menurut Ketua DPRD jatim Penerapan New Normal Harus Didukung
Sebanyak 1600 Sampel Menumpuk di LPT Unair
Razia PSBB Jilid III, Masyarakat Masih Banyak Melanggar
Bertambah 5, Jumlah Kasus Covid-19 di Tulungagung 57 Orang
Meski Ombak Menurun, Petugas Larang Warga Dekati Bibir Pantai
RS Rujukan Covid-19 Overload
Pangkogabwilhan Sidak Percepatan Penanganan Covid-19 Di RS Darurat
PSBB Jilid 3, Pasien Positif di Kawasan Waru Meningkat
Kedua Orang Tua Bocah Tewas Terpanggang Dalam Mobil Belum Terima Surat Pemeriksaan
Jokowi Berikan Insentif Modal Kerja ke Petani dan Nelayan
Kejar-Kejaran Dengan Polisi, Sepasang Kekasih Ditangkap Gelapkan Mobil
Ombak Dengan Ketinggian Hampir 3 Meter Menerjang Kawasan Pantai Malang Selatan
Polda Jatim Siap Terapkan New Normal
Begini Ancaman Bupati Tuban Bagi Yang Melanggar Tak Pakai Masker
Pasien Positif Bertambah 4,Tiga Diantaranya Tertular Pasien Sebelumnya



Life Style
Waspada, Anak Usia Dini Mudah Mengalami Stres
Kamis, 21-05-2020 | 22:26 wib
Reporter :
Foto ilustrasi dok pojokpitu.com
Jakarta pojokpitu.com  Orang tua harus mampu mengenal perkembangan otak dan pandangan anak-anak usia dini untuk meminimalisir stres. Menurut dr. Octaviani Ranakusuma, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, orang tua bisa saja menjadi penghambat perkembangan otak anak usia dini karena belum mengenal sosial emosional anak dengan baik.
Ini disampaikannya dalam diskusi dan webinar Perkembangan Otak Anak di Usia Emas yang digelar Tanoto Foundation bekerja sama dengan Universitas Yarsi dan Koalisi PAUDHI Nasional pada Rabu (20/5).

Menurut Octa ada tiga jenis stres anak yang harus diketahui dan dipelajari orang tua.

Pertama adalah stres yang positif. Yaitu stres terhadap hal yang normal dan penting untuk perkembangan yang sehat dan optimal.

"Ditandai oleh peningkatan produksi hormon stres, tekanan darah dan detak jantung. Durasi stres ini singkat seperti bertemu pengasuh baru, atau saat dokter menyuntik," tutur Octa.

Selanjutnya, stres yang bisa ditoleransi mengaktivasi sistem siaga tubuh atas suatu yang mengancam.

Seperti bencana alam, cedera tubuh, kehilangan anggota keluarga. Durasi stres lebih panjang.
"Hubungan yang mendukung dengan orang dewasa akan sangat membantu anak menghadapi stres jenis ini," sambungnya.

Ketiga adalah stres yang beracun (toxic stress). Pada tahap ini anak mengalami hal-hal yang menyakitkan yang berulang-ulang dan berkepanjangan.

Seperti pengabaian, kekerasan fisik/emosional, kemiskinan tanpa adanya dukungan dari orang dewasa.

"Atau bahkan orang dewasa yang bersangkutan yang melakukan penganiayaan terhadap mereka," tambahnya.

Menurutnya, ini yang harus dihindari orang tua. Selain itu, orang tua juga harus lebih fokus melihat bentuk stres yang dialami anak itu agar bisa diatasi bersama dan membuat anak merasa dilindungi. (flo/jpnn/pul)



Berita Terkait

Kesehatan
RSUD Soeroto Ngawi Siap Sembuhkan Caleg Depresi
22-03-2019 | 14:59 wib

Kesehatan
RSJ Menur Siapkan Ruangan Khusus Bagi Caleg Stress
16-01-2019 | 19:16 wib

Life Style
59 Persen Perempuan Saat Ini Tidak Bahagia dengan Hidupnya
11-12-2018 | 14:27 wib

Opini
Mengelola Stress Bisa Tingkatkan Produktivitas
15-11-2017 | 10:05 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062