KPU Surabaya Gelar Launching Pilwali Surabaya 2020
Koalisi PKB-PDIP Dukung Kartika-Saim Maju Dalam Pilkada Lamongan
Diduga Limbah Pabrik, Busa Mirip Hamparan Salju Tutupi Aliran Sungai
Rawan Terpapar Covid 19, Reni Astuti Minta Guru WFH
Masih Ada Tahapan Lain, Yang Lulus SBMPTN Belum Tentu Diterima
Dik Doank Buka Suara Soal Lahan Kandank Jurank Digugat
Peringati Hut RI, Ibu-Ibu Berebut Sembako Gratis
Pasca Puluhan Tahun Mangkrak, Machfud Arifin Pelopori Hidupnya Langgar Gipoo
ODGJ Binaan Dinsos Ikuti Lomba Kemerdekaan Agustusan
Peringati Hari Kemerdekaan, Polisi Pakai Baju Pejuang
Belum Ada Renegosiasi Kontrak Persebaya dengan David Da Silva
Judi Dadu Digerbek, Dua Kakek Diamankan Polisi
Wisuda Drive Thru IAIN Jember, Wisudawan Naik Becak
Kericuhan Warnai Rencana Pembukaan Gembok Titd Kwan Sing Bio Tuban
Budidaya Tanaman Porang Lebih Ekonomis dan Menguntungkan



Metropolis
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19
Sabtu, 30-05-2020 | 09:16 wib
Reporter : Ayul Anhdim
Surabaya pojokpitu.com  Beredarnya video Walikota Surabaya Tri Rismaharini marah - marah terkait bantuan mobil berisi peralatan mesin PCR dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ditanggapi Partai Golkar Jatim, mendapat tanggapan dari Ketua DPRD Jatim dari Fraksi Golkar.
Kodrat Sunyoto, Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim mengatakan, seorang walikota Surabaya seharusnya tidak perlu marah-marah seperti itu. Dan jangan mencari sensasional ditengah pendemi covid-19 seperti saat ini. Apalagi faktanya, mobil itu juga dipergunakan keliling ke sejumlah titik di Jatim untuk melakukan test massal pencegahan covid-19. "Walikota Surabaya gak usah lebay, bicara baik-baik kan bisa. Kok ga malu dilihat masyarakat," ujar Kodrat, Sabtu (30/5/2020).

Fraksi Golkar mengaku sudah kroscek ke sejumlah pihak soal mobil yang kemarin sedang berada di kabupaten Lamongan dan Tulungagung itu. Hasilnya, mobil tersebut adalah bantuan dari BNPB untuk Pemprov Jatim. Karena pada 11 Mei 2020, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengajukan surat permohonan kepada BNPB untuk dikirim bantuan mesin RT-PCR 15 Unit dan 3500 Catride untuk rumah sakit yang menangani pasien Covid-19. Hingga kemudian BNPB mengirimkan permohonan tersebut berupa 2 unit mobil untuk digunakan sebagai tempat test. 

"Mobil tersebut memang bukan untuk diberikan ke Kota Surabaya, tapi untuk Pemprov Jatim yang bisa digunakan di seluruh Jawa Timur, termasuk Surabaya," ujarnya.

Kodrat menilai, tindakan emosional yang dilakukan Walikota Surabaya hingga viral di medsos itu punya maksud tertentu. Salah satu dugaannya adalah agar tidak disalahkan masyarakat karena jumlah pasien positif dan PDP di Kota Surabaya terus melonjak. 

"Jangan salahkan masyarakat kalau menganggap cara seperti itu (marah-marah) dianggap lebay dan untuk mengalihkan isu soal tingginya angka penderita Covid-19 di Kota Surabaya," jelas Kodrat Sunyoto sembari menyarankan ke Pemkot Surabaya menyelesaikan masalah tersebut secara baik-baik antar pemerintah. 

"Yang perlu dilakukan adalah sinergi yang baik antar pemkot dan pemprov untuk segera menurunkan jumlah penderita covid-19 di Jatim ini, jangan sampai pemimpin bertengkar, rakyat jadi korban," ingatnya. 

Seperti diketahui, dalam video tersebut, Walikota Surabaya Tri Risma terlihat menelepon seseorang dari BNPB dengan nada tinggi. Is menanyakan bantuan dua mobil laboratorium Bio Safety Level 2 (BSL-2) dari BNPB yang diminta oleh Pemerintah Kota Surabaya. Dalam telponnya, Risma tidak terima karena setelah datang dua mobil itu ternyata malah dikirimkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur bukan ke Surabaya melainkan ke daerah lainnya di Jawa Timur. 

Berikut kemarahan Risma yang tertangkap dalam video tersebut:

"Dapat sms, dapat wa-nya Pak Joni, Kohar (Gugus Tugas Pemprov Jatim). Kalau (mobil) itu (seharusnya) untuk Surabaya. Opo opoan (Apa-apaan) gitu lo pak, kalau mau boikot jangan gitu Pak caranya. Saya akan ngomong ini ke semua orang. Pak, saya ndak terima lo Pak. Betul saya ndak terima Pak."

"Saya dibilang ndak bisa kerja. Siapa yang ndak bisa kerja, sekarang. Kalau mau ngawur jangan nyerobot gitu. Siapa yang ndak bisa kerja. Boleh dicek ke Pak Pramono Anung (Seskab), Boleh ditanya ke Mbak Puan (Ketua DPR RI)". (end)



Berita Terkait

Metropolis
Politisi Golkar : Bu Risma Milik Warga Surabaya, Bukan PDIP
31-05-2020 | 00:33 wib

Metropolis
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Ten...selanjutnya
30-05-2020 | 09:16 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062