Gandeng Wartawan, BPBD Jatim Sosialisasikan Prokes
KPU Sidoarjo Seleksi 127 Calon Relawan Demokrasi
Musim Panen Harga Bawang Merah Anjlok Drastis, Terdampak Merebaknya Covid-19
Pemkab Akan Undang Investor Dirkan Pabrik Rokok di Ngawi
Pemaparan Sosialisasi Perbawaslu Dimusim Pandemi Dihadapan Seluruh Petugas PPK
Sehari 9 Sembuh, Tapi Ada Tambahan 12 Positif Covid-19
Diperpanjang Hingga 2021, Sebanyak 1.085.000 Pekerja Sudah Terima BSU
Kasek dan Guru SMAN 2 Ngawi Terpapar Covid-19
Bupati Novi Kembali Digugat 15 Miliar Atas Dugaan Penyerobotan Tanah Warga
Krisis Air Bersih,Warga Berebut Air Bantuan Pemkab

Galau Ikut Adat Harus Tinggal di Mertua
Sabtu, 01-08-2020 | 13:47 wib
ILUSTRASI. Warga lanjut usia (lansia) membutuhkan pendampingan. Bukan sekadar pendampingan fisik, tetapi juga butuh pendampingan mental. Salah satunya dengan mendengarkan curahan hati agar mereka tetap bahagia meski memasuki usia senja. Foto dok pojokpitu.com
pojokpitu.com Ruang Psikologi oleh pojokpitu.com untuk memberikan pelayanan bantuan bagi semua orang yang membutuhkan konsultasi. Terutama untuk pengembangan kepribadian serta dampak psikologis lain, akibat peristiwa kekerasan, konflik, bencana alam, dampak penyakit dan pengalaman traumatis. Ruang Psikologi ini terbuka, materi kasus/naskah dikirim melalui email pojokpitu@yahoo.com atau pitupojok@gmail.com
Pertanyaan,

Sudah 7 tahun ini sejak menikah, saya terpaksa tinggal di rumah mertua. Dengan alasan istri saya anak terakhir, sehingga (secara adat) ditugasi mengasuh orang tua yang semakin menua dan sakit sakitan. Padahal kami punya rumah sendiri yang sudah dibangun sejak pra nikah. Karena harus tinggal di rumah mertua itu, saya harus tenggang rasa, toleran dan berperilaku yang tidak pernah rilexs.  Sehingga kami dan dua anak sepakat tidak boleh membuat gaduh, serta harus menyembunyikan perasaan apapun. Akibatnya saya tidak bisa memiliki ruang prifasi dan untuk ekspresi diri.

- Bagaimana menghadapi mertua yang sangat sensitif perasaan itu?

- Bagaimana mendidik anak di tengah keluarga yang ada mertuanya?

- Kapan waktu yang tepat agar bisa membicarakan tentang rencana boyongan ke rumah sendiri ?
    
Malang, 3 Agustus 2020
Endri Titono (Endri-1982@gmail.com)



Jawaban,
1.Perasaan sensitif yang terjadi disebabkan karena terjadi ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Adat yang disebutkan itu mengunci kebebasan berpendapat dan lain-lain. Disini ada dominasi yang dipegang dengan bungkus sesuai adat dan lain-lain.
Pertanyaannya, apakah pada saat membangun rumah (yang sebelum perkawinan) masing-masing sudah terbuka dengan adanya adat tersebut ?. Apakah mertua sdh menyampaikan hal tersebut?

Kalau sudah, berarti masalah ada di keiklasan  pada kedua belah pihak. Kalau belum, anda terjebak dalam komunikasi satu arah dan terjadi miskom karena masing pihak berperan seperti apa yang dipikirkannya. Bukan apa yang sebaiknya dilakukan.

2. bagaimana mendidik anak di tengah keluarga yang ada mertuanya. Bagi saya, anak kita adalah anak kita. Dimanapun kita tinggal, yang melindungi mereka adalah orangtuanya. Wajib. Walaupun kedua orang tua bekerja, dan anak dititipkan ke mertua, tetap ada batas jelas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan mertua.

Di Indonesia, ada sebuah ajaran tentang ewuh/sungkan/gak enak hati. Nah ini mengunci sikap kita sebagai anak dan sebagai orang tua bagi anak-anak kita. Perlu banget memahami, mengetahui dan menyampaikan dengan bahasa yang sopan mengenai peran-peran tersebut. Jangan sampai malah merusak masa depan anak.

Contohnya, orang tua melarang makan ice cream karena jadi batuk, tapi mertua karena alasan sayang "bungkus dari sikap kasihan kok gitu aja dilarang-larang" maka sang cucu dibelikan ice cream. Bahkan kadang-kadanf cerita-cerita ke tetangga betapa jahatnya menantunya karena sang cucu tidak boleh makan ice cream.

Terjadi ketidak-sinkronan dari kedua belah pihak, menumbuhkan perilaku tidak menghormati dan tidak respect kepada masing pihak.

3.Waktu yang tepat. Penting untuk disepakati dulu suami istri bersama-sama yakin, seiya sekata dan siap untuk menyampaikan ke pihak mertua bahwa akan boyongan. Sebaiknya melibatkan kakak adik dari keluaga istri agar terjadi saling pengertian. Bisa jadi, terjadi kegalauan karena sang istri dan suami membolehkan hal ini terjadi.


Nara Sumber: MA. Rosmi Pratiwi, S.Psi.



Berita Terkait

Konsultasi Psikologi
Cara Menumbuhkan Bakat Anak di Usia Sekolah
30-08-2020 | 06:14 wib

Konsultasi Psikologi
Bingung Pilih Antara PNS atau Pengusaha
29-08-2020 | 15:26 wib

Konsultasi Psikologi
Jika Pimpinan Manfaatkan Anak Buahnya
13-08-2020 | 11:15 wib

Konsultasi Psikologi
Ada Dua Pilihan Yang Meragukan, Saya Pilih Mana
13-08-2020 | 03:13 wib



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami
| Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber

©2014 Pojok Pitu Jln. A.Yani 88 Surabaya Telp. (031)-8202012 Fax. (031)-8250062